Nurul Lulus S2 Farmasi UGM dengan IPK 4.00, Ini Kiat-kiatnya!
Nurul Hikmah (dok. UGM)
SURABAYA – BQ | Nurul Hikmah (25 tahun) meraih gelar Master of Clinical Pharmacy dari Univesitas Gadjah Mada (UGM) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00. Dia pun membagikan kiat lulus pascasarjana Magister Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi, UGM, dengan IPK sempurna.
Menjadi peraih IPK tertinggi, Nurul pun deg-degan. Dia sempat tetap khawatir apakah ilmunya dapat diterapkan untuk pengembangan dunia farmasi.
“Deg-degan karena gelar Master of Clinical Pharmacy dan IPK tertinggi yang saya peroleh membuat saya takut. Apakah ilmu saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Juga, apakah saya bisa berkontribusi untuk kemajuan bidang farmasi klinik di Indonesia,” ungkap Nurul, Rabu (31/7/2024), dilansir dari laman resmi UGM.
Nurul turut membagikan tips dan trik yang ia terapkan selama menempuh kuliah. Menurutnya, metode belajar yang tepat dan mengenali dosen dengan berbagai tipe pembelajaran adalah dua hal penting dalam proses belajar.
Strategi ini akan membantu proses belajar agar lebih fokus pada kompetensi yang ingin dicapai. “Jangan terfokus pada pencapaian orang lain. Fokuslah pada yang kamu kerjakan saat ini,” pesannya.
Rajin Baca Referensi, Bikin Kelompok Belajar
Selain itu, Nurul juga rajin membaca referensi, mengatur waktu dengan baik, dan membuat kelompok belajar dengan sesama mahasiswa yang sudah bekerja. Selama berkuliah, Nurul juga aktif bergabung dalam penelitian disertasi dan asisten praktikum.
Pekerjaannya sebagai asisten praktikum kadang-terkadang membuat dirinya kewalahan. Namun hal itu tidak menghambat motivasinya untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. “Tantangan tersebut justru membuat saya belajar memanajemen waktu dengan efektif,” ucapnya.
Seluruh dedikasinya dalam menekuni bidang farmasi klinik dengan berbagai pengalamannya telah membuahkan hasil yang membanggakan. Untuk penelitian tesis, Nurul mengambil riset tentang “Cost Effectiveness Analysis Antibiotik Empiris Levofloksasin dibandingkan Kombinasi Seftriakson/Azitromisin pada Pasien Community Acquired Pneumonia Rawat Inap di RSA UGM”.
Riset ini berangkat dari latar belakang dari penelitiannya adalah tingginya tingkat kematian pada penderita pneumonia. “Sebagaimana diketahui, pneumonia bahkan menjadi penyebab kematian terbesar pada anak di bawah lima tahun,” paparnya.
Baca juga: Dona Wisudawan Terbaik S3 Unair Ber-IPK 4,00, Ini Tipsnya
Riset Bandingkan Penggunaan Dua Antibiotiks
Penelitian yang dilakukan lebih ke arah membandingkan penggunaan antibiotik seftriakson/azitromisin dan levofloxacin. Kedua jenis obat ini digunakan dalam proses penyembuhan pasien pneumonia.
Kombinasi seftriakson/azitromisin menyebabkan durasi penggunaan antibiotik yang lebih lama. Selain itu ada efek samping yang mengancam jiwa, yaitu prolonged QT interval. Juga, ada biaya tambahan sebesar Rp 1.114.926,54 untuk mendapatkan satu persen kesembuhan dibandingkan levofloksasin tunggal.
“Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan luaran klinis yang signifikan antara keduanya,” ujar Nurul.
Tambahan biaya dan efek penyembuhan yang tidak berbedaa signifikan, kata dia, menjadi peluang untuk meningkatkan efisiensi pengobatan pasien pneumonia. Harapannya, hal ini dapat mengurangi pembiayaan yang harus ditanggung rumah sakit dan pasien. Sehingga probabilitas kesembuhan dapat ditingkatkan.
Setelah lulus S2, perempuan kelahiran Banjarmasin, 23 November 1998 ini mengungkapkan keinginannya menjadi dosen di bidang farmasi klinik. Kecintaannya pada bidang tersebut membuatnya sering mengikuti aktivitas lain di luar kelas kuliah untuk memperdalam ilmu farmasi. hkm
Baca juga: Zaky, Si Anak Pedagang Plastik Peraih IPK 3,99 Teknik Metalurgi ITB

