Makna Kata ‘Maaf’
Makna Kata ‘Maaf’ | Kata ‘maaf’ tidak selalu terucap saat kita berbuat salah. Misalnya, saat kita akan mengungkapkan kata ‘negatif’ sebagai perumpamaan. Meskipun hal tersebut menjadi aneh bagi anak TK. “Binatang yang haram itu contohnya, mohon maaf, anjing…”
Makna Kata ‘Maaf’, Mengalami Perluasan Arti
Saat saya mengucapkan kalimat itu, murid saya yang masih TK protes. “Kenapa Ustadz minta maaf?” tanyanya. Bagi dia, saya tidak bersalah kok minta maaf.
Itulah kata ‘maaf’ yang telah mengalami pergeseran dari makna yang sesungguhnya. Contoh lain, saat kita berjalan melewati sebuah perkampungan. Bila ada sekelompok orang yang sedang berkumpul di tepi jalan, kita biasa meminta izin didahului kata ‘(mohon) maaf’.
“Mohon maaf, saya numpang lewat…” Sungguh, kita tidak sedang bersalah. Sebab, jalan yang kita lewati adalah fasilitas umum, bebas dipakai siapapun. Inilah salah satu makna kata ‘maaf’ dalam pergaulan.
Baca juga: Polisi Merangkap Jadi Guru Agama Di Pedalaman Kalimantan Karena Kekurangan Pengajar
Wujud Dari Etika
Kata ‘maaf’ di atas berhubungan dengan etika. Pertama, etika ketika berbicara. Kedua, etika dalam bersikap dan bergaul. Menyisipkan kata ‘maaf’ saat berucap kalimat tertentu adalah salah satu wujud sopan-santun.
Sebab, tanpa menyisipkannya tidak mustahil memancing emosi banyak orang. Dengan begitu, maknanya kita tidak sedang mengumpat dengan mengeluarkan ‘isi kebun binatang.’ Tetapi, kita sedang membuat permisalan.
Ucapan ‘maaf’ saat melewati perkampungan atau komunitas tertentu bermakna permohonan izin. Kita menghargai betul saudara kita sesama manusia meskipun tiada pernah kenal sebelumnya.
Lebih indah lagi bila dilengkapi dengan salam, saling mendoakan untuk keselamatan bersama. Sikap yang demikian akan menambah rasa persaudaraan dan meminimalkan rasa curiga serta permusuhan.
Akarnya Dari Bahasa Arab
Makna lain dari kata ‘maaf’ adalah kerendahhatian (tawādhu’). Hal tersebut biasa dicontohkan oleh orang Arab. Tentu juga oleh mereka yang pernah belajar bahasa dan etika Arab. Saat kita mengucapkan terima kasih, syukran atau jazakumullāh, mereka akan menjawab; ‘afwan (maaf).
Tentu saja mereka tidak bersalah. Namun bagi mereka yang paling pantas dipuji adalah Allah. Walaupun memuji itu sendiri tidak berdosa.
Hal itu menunjukkan bahwa sebuah kata juga berdialektika dengan situasi dan kondisi. Sebuah kata digunakan dalam komunikasi berdasarkan kesepakatan dan kebiasaan yang temporer dan situasional.
Baca juga: Gaji guru di Indonesia harusnya setara dengan komisaris, jika ingin bersaing di Internasional
Makna kata ‘maaf’ menurut Ulama
Betapapun demikian, sebuah kata tetap tidak lari dari makna aslinya. Kata ‘maaf’ sendiri hakikatnya memiliki makna yang dalam dan mempunyai konsekuensi yang panjang. Inilah salah satu penjelasan makna kata ‘maaf’ dalam budaya Arab dan Islam,
Kata ‘maaf’ biasa digunakan untuk mengungkapkan rasa salah dan penyesalan. Dari situlah kemudian dikenal istilah ‘peminta maaf’ dan ‘yang dimintai maaf.’
Meminta maaf itu mudah tetapi memberi maaf tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun yang jelas pribadi yang dengan kesadaran diri meminta maaf adalah sosok yang patut diteladani. Apalagi mereka yang dengan senang hati bersedia memaafkan walaupun tidak diminta.
Saya teringat pesan KH. Anwar Sanusi, Ketua Dewan Syuro Badan Koordinasi Mubaligh Se-Indonesia (Bakomubin). “Kalau kita tidak mau memberi maaf maka itu adalah hak kita,” tuturnya.
“Namun apabila kita punya salah kepada Allah lalu kita minta ampun dan Allah tidak mengampuni itu juga hak Allah,” lanjutnya. Intinya, semakin ringan memaafkan mudah-mudahan semakin gampang dimaafkan (diampuni) Allah. And the last, banyaknya kata maaf yang terucap tidak berarti bahwa kita banyak salah. Semoga. []
Penulis: Samsul Zakaria, S.Sy., M.H
Penulis adalah Hakim Pengadilan Agama Soreang Kelas 1B, Jawa Barat. Alumnus Pendidikan Sarjana pada Program Studi Ahwal Syakhshiyah (Hukum Keluarga) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Menyelesaikan Pendidikan Magister pada Paskasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Baca juga: Hijrah Tidak Sempurna Tanpa Konsep Mahjar Yang Benar
Foto: pixabay

