Ratusan Anak SMP Tidak Bisa Membaca | Siapa Paling Bertanggung Jawab?

 Ratusan Anak SMP Tidak Bisa Membaca | Siapa Paling Bertanggung Jawab?

Ratusan Anak SMP Tidak Bisa Membaca | Kurang dari sebulan menjelang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025, masyarakat Indonesia disuguhi fakta ada di suatu kabupaten terdapat ratusan pelajar SMP tidak bisa membaca atau terkategori tidak lancar membaca.

Ratusan Anak SMP Tidak Bisa Membaca, Ada Beberapa Faktor

Dari 34.062 siswa, ada 155 dinyatakan termasuk dalam kategori tidak bisa membaca (TBM). Sementara, sebanyak 208 lainnya termasuk kategori tidak lancar membaca (TLM). Ini yang diberitakan situs new-indonesia.org   

Fakta ini dipengaruhi oleh beragam faktor, ada faktor internal dan eksternal. Dari sisi internal, disebabkan karena kurangnya motivasi belajar, pembelajaran tidak tuntas, disleksia, dan kurangnya dukungan keluarga. Sehingga, ratusan anak SMP tidak bisa membaca atau tidak lancar.

Ratusan Anak SMP Tidak Bisa Membaca, Ibu Dan Ayah Punya Andil  

Pada faktor internal ini banyak dipengaruhi oleh lemahnya dukungan keluarga, khususnya peran ibu. Di masa kini banyak ibu berkarir di luar rumah, sehingga tak cukup waktu untuk mendampingi anak belajar.

Hal sebaliknya juga menyebabkan hal yang sama. Banyak ibu di rumah namun lebih banyak memainkan ponsel ketimbang menemani anak belajar di rumah.

Bisa juga, sang ibu memberikan ponsel lain kepada anaknya dan masing-masing sibuk dengan ponselnya sendiri sampai lupa dengan ketuntasan belajar anak.

Baca juga: Polisi Merangkap Jadi Guru Agama di Pelosok Kalimantan Karena Kekurangan Pengajar

Ratusan Anak SMP Tidak Bisa Membaca, Justru Lebih Suka Main Ponsel

Penulis pernah menemukan fakta, bahkan seorang ibu yang notabene seorang psikolog justru malas melatih putranya untuk berbicara dan membaca.

Sang ibu sudah terlanjur lelah akibat bekerja di semua rumah sakit dan tak ada energi lagi untuk mendampingi anaknya sendiri untuk memperkaya literasi sang anak.

Selain itu, kondisi keluarga juga mempengaruhi psikologi belajar anak. Misalnya, cekcok ayah ibu hingga perceraian. Ada juga trauma pada anak dan perundungan, semakin memperparah lemahnya motivasi belajar siswa. Efeknya antara lain ratusan anak SMP tidak bisa membaca atau tidak lancar.  

Begini Isi Curhat Seorang Guru Tentang Hal Ini

Seorang kenalan guru mendapat curhat dari rekan guru dari provinsi lain tentang sikap abai orangtua terhadap pendidikan anaknya. Berikut ini penuturannya melalui media perpesanan WhatsApp.

###

Izin menyampaikan pengalaman saya. Di tempat saya, ada problem yang sama. Sudah kelas 3 SD ke atas, ada bahkan banyak yang belum bisa membaca. Miris.

Kemudian saya berinisiatif membuka les membaca dan shalat secara gratis. Target saya adalah anak-anak dari orangtua yang tinggalnya dekat dengan rumah saya. Karena saya berpikir mereka yang tidak memberikan tambahan jam belajar karena keterbatasan ekonomi sehingga tidak mampu untuk mengikutsertakan anak-anaknya les yang berbayar.

Akan tetapi saya salah persepsi Pak. Ternyata memang anak-anak yang tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah, tertinggal dalam calistung itu memang karena tidak ada dorongan dari orangtuanya.

Kasarnya, orangtua kalah dengan anaknya. Anak lebih suka bermain, ya dibiarkan saja. Waktunya berangkat sekolah, anaknya masih tidur, dibangunkan susah, ya dibiarkan. Habit yang seperti ini membuat anak-anak tertinggal.

Dan benar, background pendidikan orangtuanya lah yang amat sangat berpengaruh Pak. Ada anak yang orangtuanya amat sangat terbatas dengan ekonominya.

Tapi ada yang kecintaan terhadap pendidikan dari orangtuanya tinggi. Mereka tinggal beda desa dengan saya, namun beliau rela mengantarkan anaknya untuk belajar bersama saya.

Tapi sebaliknya, yang awalnya menjadi target saya, justru mereka tidak ada dorongan dari orangtuanya Pak. Dari permasalahan ini, saya ingin bertanya bagaimana cara menyadarkan orang tua bahwa pendidikan itu penting, Pak?

###

Dari pengakuan di atas, tampak masih banyak orangtua yang abai terhadap pendidikan anaknya sendiri. Entah karena tak ada kesadaran atau memang sibuk bekerja?

Penulis pernah mendengar adanya sebuah desa di Pulau Jawa yang sebagian besar warga usia produktifnya pergi merantau di luar kota bahkan luar negeri.

Sehingga desa itu mayoritas diisi oleh anak-anak dan lansia. Sang nenek atau kakeknya lah yang menemani anak-anak itu. Sedang ayah ibunya merantau jauh di luar negeri.

Baca juga: Bu Diana Mengajar di Pedalaman Papua, Donasi Masuk Dari TikTok

Ayah Ibu Masih Hidup, Tapi Serasa Yatim Piatu

Faktanya, anak-anak ini kekurangan perhatian dan enggan sekolah. Mereka rutin mendapat kiriman uang tapi justru urusan sekolahnya tidak disiplin. Maklum, kakek neneknya sudah tak ada energi lagi untuk membimbing cucunya sekolah.

Rendahnya daya baca ini juga dipengaruhi kuat oleh faktor eksternal. Bisa disebabkan karena efek jangka panjang pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19 lalu. Bisa juga karena kesenjangan literasi dari jenjang SD.

Di sinilah tantangan bagi guru, kepala sekolah, Kementerian Pendidikan Dasar Menengah, juga para orangtua agar lebih perhatian terhadap masalah ini.

Ratusan Anak SMP Tidak Bisa Membaca, Saatnya Evaluasi Di Kalangan Pendidik dan Kementerian

Ini menjadi evaluasi penting terhadap performa guru dan kepala sekolah (KS). Bagaimana metode belajar calistung di jenjang dasar serta evaluasi terhadap standar kenaikan kelas dan kelulusan.

Rendahnya performa KS dan guru bisa menyebabkan ratusan anak SMP tidak bisa membaca atau tidak lancar di sebuah kabupaten.

Banyak pemerhati pendidikan bahwa fakta ini merupakan fenomena gunung es. Yang tampak hanya Sebagian di permukaan namun di bawah jauh lebih parah.

Ketuntasan belajar pada tiap jenjang menjadi tanggung jawab guru dan KS. Di sinilah performa guru dan KS menjadi sangat krusial. Kiranya harus dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa guru dan KS, termasuk kompetensi, supporting system hingga tingkat kesejahteraan para guru dan KS lebih khusus di sekolah swasta.

Oleh Oki Aryono, S.Pd, jurnalis dan pemerhati masalah sosial

Baca juga: Minat Jadi Guru Rendah, Fakta dan Solusi

Foto: ilustrasi, sumber pixabay

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *