Hijrah Tidak Sempurna Tanpa Konsep Mahjar Yang Benar

 Hijrah Tidak Sempurna Tanpa Konsep Mahjar Yang Benar

Masjid Nabawi di Madinah. Foto: pixabay.com

Jakarta-BQ | Baru saja umat Islam menyambut datangnya Tahun Baru 1446 H. Peristiwa Hijrah merupakan tonggak penting dalam peradaban Islam. Pertanyaannya, apakah proses hijrah masih relevan pada masa sekarang? Mari kita ulas sekilas di sini.

Pada1 Muharram 1441 H lalu, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) menyelenggarakan kajian sambut malam 1 Muharram dengan judul Hijrah dan Mahjar.

Kajian yang diselenggarakan di Aula INSISTS Jalan Kalibata Utara Jakarta tersebut dimulai pada pukul 09.15 dan berakhir pada pukul 12.00 WIB. Selaku pembicara adalah Ustadz Asep Sobari, Lc. yang dikenal dengan Siroh Community-nya, serta Ustadz Dr. Henri Shalahuddin, MIRKH. yang merupakan Direktur Eksekutif INSISTS.

Apa Itu Mahjar? Apa Relevansinya Dalam Hijrah?

Seperti diketahui, penanda penting penanggalan Islam adalah peristiwa Hijrah. Sebagai sebuah tindakan historis yang strategis, Hijrah memiliki kedudukan tinggi di dalam Islam. Sebagai sebuah ajaran, Hijrah tetap berlaku hingga akhir zaman.

Namun hari ini di tengah maraknya berbagai praktik berlabel hijrah, terdapat beberapa kesalahafahaman dan penyempitan konsep. Berangkat dari hal tersebut maka para guru INSISTS tersebut merasa perlu mengangkat tema tersebut.

Ustadz Asep mengingatkan bahwa Mahjar adalah istilah penting yang terikat dengan Hijrah, namun kurang populer dan kurang mendapatkan perhatian secara memadai. Padahal, tidak ada hijrah tanpa mahjar. Sebagai sebuah tindakan peradaban, hijrah tanpa mahjar adalah pelarian. Karena sejatinya mahjar adalah tujuan yang harus dicapai, kebajikan yang perlu diwujudkan, serta ideal yang butuh direalisasikan.

Hijrah Bukanlah Pelarian, Jangan Sampai Hanya Hijrah Tanpa Target Yang Jelas

Secara historis Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wasallam melakukan hijrah tidak hanya untuk lari dari Mekkah yang menindas umat beriman. Beliau menyiapkan terlebih dahulu lokasi baru yang akan mempengaruhi wajah Arab dan kemanusiaan ke-depan.

Awalnya Nabi saw. mengutus Ja’far bin Abi Thalib beserta rombongan untuk mendatangi Ethiopia yang dipimpin oleh Negus, seorang raja Kristen yang baik. Di sana Ja’far mengenalkan Islam, membina umat beriman, serta menyiapkan episentrum yang ideal bagi Rasulullah.

Selain Ja’far, Rasulullah juga mengutus Mush’ab bin ‘Umair untuk datang ke Yatsrib, ‘tempat kotor’ di utara wilayah Mekkah. Di sana pemuda berbakat ini juga mengenalkan Islam, membina umat beriman, serta menyiapkan episentrum ideal bagi Rasulullah.

Di tempat yang kemudian disebut Madinah atau ‘tempat Din diejawantahkan’ tersebut, Rasulullah saw mewujudkan mahjar sebagai rahmatan lil ‘âlamîn, kâffatan linnâs, liyudh-hirahu ‘aladdîn kullihi, dan berbagai mahjar lain yang disebutkan dalam Al-Qur`an.

Fenomena Hijrah Di Kalangan Artis Dan Para Profesional, Sebuah Otokritik

Hal ini berbeda dengan fenomena hijrah hari ini yang menyerupai pelarian. Misalkan artis ketika hijrah maka performa ibadah dan tampilannya berubah, tapi tidak menciptakan model hiburan alternatif yang mubah maupun edukatif.

Contoh lainnya adalah pengusaha yang setelah hijrah tidak menciptakan model ekonomi alternatif yang terbebas dari riba dan harta haram lainnya. Termasuk para bankir yang eksodus meninggalkan pekerjaannya kemudian menganggur.

Akibatnya adalah posisinya tersebut kemudian diisi oleh para musuh Islam yang menggunakan kesempatan itu untuk menyebarkan pengaruhnya. Untuk personal mungkin dia telah menyelamatkan dirinya, tetapi dalam konteks peradaban, ini adalah pelarian tanpa mahjar.

Empat Target Hijrah Masa Kini, Apa Saja?

Ustadz Henri kemudian menambahkan bahwa dalam konteks hari ini, ada berbagai mahjar yang harus dijadikan kenyataan. Pertama, pendidikan. Pendidikan adalah prasyarat peradaban yang tidak bisa ditawar. Namun di lapangan tampak bahwa kualitas pendidikan kita belum menggembirakan.

Kedua, persoalan ketahanan keluarga. Keluarga adalah pilar penting peradaban yang semakin goncang karena berbagai tuntutan kemodernan.

Ketiga, ekonomi, tehnologi dan seni. Ketiga hal ini kiranya tidak perlu diperjelas lagi. Keempat, pusat riset. Kesadaran tentang riset umat ini masih lemah. Berbagai penelitian abal-abal menuduh umat Islam radikal, tapi tidak ada satupun ormas Islam yang membantah hal itu dengan bahan penelitian yang memadai. Tentu saja semua ini persoalan.

Baca juga: 6 Kebutuhan Dasar Manusia | Nomor 5 dan 6 Jarang Dipenuhi

Apa Saja Mahjar Di Zaman Sekarang?

Pada akhirnya memang kajian ini mereorientasi pandangan kita mengenai hijrah. Hijrah yang selama ini dipahami sebagai ‘meninggalkan sesuatu’ hanya akan menjadi pelarian jika tidak berangkat dari niat yang benar dan dilanjutkan dengan jihad untuk mewujudkan mahjar yang diimpikan.

Karena memang begitulah yang dilakukan Nabi Muhammad setelah meninggalkan Mekkah. Beliau mewujudkan berbagai perubahan besar-besaran di 10 tahun usia akhirnya di Madinah.

Adapun dalam konteks hari ini, ada berbagai mahjar yang mendesak untuk diwujudkan umat Islam, dari pendidikan, ekonomi, politik, penelitian hingga hiburan. Wallahu a’lam wa huwal-musta’ân.

Penulis: Anton Ismunanto, Dewan Ketua Bentala Tamaddun Nusantara

Editor: Oki Aryono

Baca juga: 1 Muharam 1446 Hijriah Telah Tiba, Ini Sejarah, Makna, dan Hikmahnya

Foto: pixabay

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *