Kita Jadi Pintar Karena Guru

 Kita Jadi Pintar Karena Guru

Inilah lagu kita jadi pintar karena guru yang berjudul Jasamu guru, yang diaransemen M. Isfanhari.

Kita jadi bisa menulis dan membaca

Karna siapa?

Kita jadi tahu beraneka ilmu bidang ilmu

Dari siapa?

Kita jadi pintar, dibimbing pak guru

Kita bisa pandai, dibimbing bu guru

Gurulah pelita, pembimbing dalam gulita

Jasamu tiada tara

Siapa yang tak merasakan duduk di bangku sekolah? Kita jadi pintar karena guru.

Karena nyaris tak ada anak di bawah usia 12 tahun yang tak merasakan bangku sekolah di negeri ini. Semua orang penting di negara manapun pasti mengenyam pendidikan.

Kita Jadi Pintar Karena Guru

Semua jadi pintar karena guru, sebagaimana lirik lagu Jasamu Guru (diaransemen M. Isfanhari) di atas. Tidak ada anak pintar kecuali hasil didikan guru.

Dan setiap anak Indonesia yang berprestasi dan kini menjadi tokoh pasti diajari guru. Semua karena jasa guru. Semua pasti merasakan belajar di sekolah dan dididik para guru kita. Kita jadi pintar karena guru.

Gerakan Wajib Belajar Pertama, Tahun 1984

Di Indonesia, gerakan wajib belajar mulai benar-benar digalakkan pada 1984. Tepat pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 1984, Presiden Suharto meresmikan Gerakan wajib belajar di Stadion Utama Senayan, Jakarta (dikutip dari kompas.com, 2/5/2021) .

Saat itu, stadion yang kini bernama Stadion Utama Bung Karno Pak Harto mengungkapkan bahwa program ini sebetulnya sudah dicanangkan sejak lama, bahkan pernah dibahas DPR pada 1953.

Namun baru benar-benar dilaksanakan pada 39 tahun Indonesia merdeka karena butuh anggaran besar dan persiapan yang matang. Pada masa Orde Baru program wajib belajar 6 tahun ini digencarkan hingga paling bawah.

Program SD Inpres mulai 1973

Persiapannya pun dimulai sejak 1973. Yakni pembangunan ribuan sekolah atas dasar Instruksi Presiden (inpres) nomor 10 tahun 1973 tentang Pembangunan Sekolah Dasar Pelita II. Sejak itulah, banyak SD Inpres.

Hingga 1993-1994, tercatat sudah 150 ribu SD inpres terbangun. Dalam program ini, anak Indonesia usia 7 hingga 12 tahun akan mendapatkan kesempatan yang sama dan adil dalam menikmati pendidikan dasar.

Kesempatan yang sama diterima mereka yang berada di kota besar, kota kecil, desa-desa, lembah-lembah, dan pegunungan terpencil. Kita jadi pintar karena guru di sekolah dan tempat belajar di negeri ini.

Pendidikan menjadi kebutuhan pokok saat ini selain pangan, sandang dan papan. Tiap keluarga Indonesia berhajat terhadap kebutuhan guru yang mumpuni. Karena kita jadi pintar karena guru.

Kita Jadi Pintar Karena Guru, Sudah Ada SD dan MI

Anak-anak bisa mendaftar di SD-SD yang sudah ada atau di madrasah Ibtidaiyah. Bagi anak dari keluarga kurang mampu bisa sekolah di SD Pamong atau Kelompok Belajar (Kejar) Paket A.

Sedangkan bagi anak berkebutuhan khusus dan difabel bisa bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) jenis A, B, C, D dan E atau Sekolah Dasar Luar Biasa atau Sekolah Dasar terpadu.

Wajib Belajar 6 Tahun Lalu Jadi 9 Tahun

Ketika masuk era reformasi, pemerintah dan DPR menambah durasi wajib belajar menjadi 9 tahun. Hal ini dituangkan dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Anak Indonesia wajib sekolah dari SD hingga SMP kelas 9.

Puncaknya pada saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dijabat Prof.Dr.Ir.KH. Muhammad Nuh, DEA. Pada 2013, Mendikbud meluncurkan Program Pendidikan Menengah Universal (PMU) yang menjadikan program wajib belajar 12 tahun yang meliputi SMA, MA dan SMK.

Mendikbud menyatakan bahwa program PMU ini adalah program yang sangat strategis untuk pembangunan bangsa Indonesia di masa depan dalam rangka menyiapkan generasi 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Semua itu agar anak Indonesia bisa pintar. Kita jadi pintar karena guru.

“Ini program yang sangat strategis untuk adik-adik kita, untuk bangsa kita ke depan,” ujar Mendikbud dalam peluncuran tersebut.

Jumlah Penduduk yang Mencapai Puncaknya Pada Tahun 2045

Salah satu latar belakang PMU, menurut Menteri Nuh, adalah adanya potensi jumlah penduduk usia produktif yang sangat besar di Indonesia dalam beberapa dekade ke depan.

“Pertanyaannya adalah apakah populasi usia produktif ini nanti menjadi bonus demografi atau bencana demografi, tentunya kita ingin menjadikannya bonus demografi,” kata Mantan Rektor ITS Surabaya tersebut.

Bonus Demografi, Kita jadi pintar karena guru

Dua kata kunci untuk meraih bonus demografi dari potensi jumlah usia produktif yang besar tersebut adalah sehat dan cerdas. Jadi bidang kesehatan dan pendidikan harus menjadi prioritas, ujar Mendikbud.

Selain itu program PMU merupakan kesinambungan atas keberhasilan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.

Berangkat dari tekad untuk meningkatkan wajib belajar tersebut, mulai tahun 2011 Kemdikbud bersama Komisi X DPR RI bertekad memulai program PMU ini.

Terbaru, Wajib Belajar Jadi 12 Tahun

Sehingga secara resmi, gerakan wajib belajar 12 belajar mulai digencarkan sejak 2013. Dengan begitu, setiap anak Indonesia merasakan pendidikan minimal sampai jenjang SMA sederajat. Hingga 2018,

Kini hampir setiap anak Indonesia merasakan sekolah. Hingga Agustus 2023, BPS mengeluarkan data tenaga kerja Indonesia mencapai 139,85 juta orang, dikutip dari katadata.co.id.

Yang lulusan SD ke bawah sebanyak 36,82 persen. Lulusan SMA 20,25 persen, lulusan SMK 12,40 persen, dan lulusan SMP 17,77 persen.

Sedangkan lulusan universitas hanya 10,32 persen, sedangkan lulusan diploma (I/II/III) 2,44 persen saja.

Kita Berupaya Cetak Guru Standar Dunia Demi Upgrade Generasi

Yayasan Guru Mulia Indonesia punya misi untuk mencetak kader guru dengan standar dunia. Kami berharap jika mampu mewarnai siswa-siswa negeri ini dengan warna yang indah.

Karena siswa yang hebat merupakan hasil ‘sentuhan’ guru yang hebat pula. Warna pendidikan kita merupakan warna guru-gurunya.

Sekolah hebat merupakan hasil kerja cerdas, kerja keras dan kerja ikhlas para gurunya yang dibantu segenap SDM yang terlibat di dalamnya.

Kita harus mendorong sebagian kaum muda cerdas agar mau jadi guru. Agar mutu guru Indonesia bisa naik kelas. Karena saat ini anak muda mulai enggan jadi guru. Harus ada upaya serius untuk mengubah ini.

Foto: pixabay

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *