PKM UGM Bikin Obat Luka Bakar dari Kulit Bawang Bombay

 PKM UGM Bikin Obat Luka Bakar dari Kulit Bawang Bombay

Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan nanofiber berbahan kulit bawang bombai kuning untuk menyembuhkan luka bakar. (dok. UGM)

SURABAYA  – BQ | Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat nanofiber berbahan kulit bawang bombai kuning untuk menyembuhkan luka bakar. Limbah kulit bawang bombai kuning diproses menjadi sediaan nanofiber berlapis dua (bilayer nanofiber). Untuk meningkatkan penetrasi ekstrak ke dalam luka dan mencegah terjadinya infeksi.

Naufal Ahmad Fauzy, ketua tim mahasiswa, menjelaskan, timnya menggunakan kulit bawang bombai kuning karena dinilai memiliki kandungan kuersetin yang tinggi. Penggunaan limbah kulit yang tidak terpakai juga turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Aktivitas penelitian yang kami lakukan sangat menarik karena meneliti kandungan ekstrak dan mengujinya kepada hewan uji tikus. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan tim ” tutur Tika Nur Amini dilansir dari laman UGM, Selasa (6/8/2024).

Tika tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset  Eksakta (PKM-RE) mahasiswa UGM . Selain Tika ada Naufal Ahmad Fauzy (Farmasi 2021) sebagai ketua tim. Kemudian, empat anggotanya adalah Zulfa Nailil Muna (Fisika 2022) serta tiga mahasiw Biologi 2022, yakni Puspita Nur Rahmawati, Tika sendiri, dan Erwinda Dwi Chofifah.

Mereka didampingi drh Retno Murwanti MP PhD. Risetnya memperoleh dukungan pendanaan dari Kemendikbud Ristek melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan atau Belmawa.

Ketua tim Naufal Ahmad Fauzy menjelaskan, kulit bawang bombai kuning digunakan karena memiliki kandungan kuersetin yang tinggi. Penggunaan limbah kulit yang tidak terpakai juga turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Penelitian Berlangsung 4 Bulan

Zulfa Nailil Muna  menambahkan, proses penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan dan berlangsung selama 4 bulan. Dimulai dari proses ekstraksi, pembuatan sediaan, karakterisasi, pengujian secara in vivo, dan analisis data. Proses karakterisasi dilakukan dengan beragam parameter. Mulai  analisis Scanning Electron Microscopy (SEM), Spektroskopi Inframerah Transformasi Fourier (FTIR).

Kemudian uji kuat tarik dan uji sudut kontak serta pengujian secara in vivo (terhadap organisme hidup, bisa tikus dll, red). Yang dilanjutkan dengan analisis histopatologi untuk mengamati proses penyembuhan yang terjadi di dalam lapisan kulit.

Zulfa menerangkan, penelitian yang mereka menunjukkan hasil yang cukup menarik. “Nanofiber berhasil dibuat dengan kualitas yang baik, tidak mudah rusak, memiliki struktur dengan ukuran yang sesuai, dan hasil pengujian in vivo yang menunjukkan penutupan luka oleh sediaan” ucap Zulfa.

Masalah Luka Bakar di Tanah Air

Penelitian ini menjadi solusi bagi angka kejadian luka bakar, yang prevalensinya mencapai 1,3 persen dari seluruh populasi Indonesia.

Luka bakar adalah jenis cedera yang melibatkan kerusakan jaringan akibat transfer energi berupa kontak langsung dengan panas, radiasi, bahan kimia, ataupun listrik. Luka bakar termasuk cedera yang sulit disembuhkan dan penanganannya berkaitan dengan stabilisasi pasien, pencegahan infeksi, serta optimalisasi pemulihan fungsional.

Penderita luka bakar berisiko mengalami komplikasi infeksi dan sistemik bergantung pada luas dan kedalaman luka bakar, usia dan kondisi umum penderita, serta adanya penyakit penyerta.

Zulfa berharap inovasi sediaan berbahan nano dengan turut memanfaatkan limbah kulit bawang bombai dapat menjadi pengobatan alternatif. Dengan memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Harapan lainnya penelitian ini terus berlanjut menuju tahapan uji klinis dan dikomersialisasikan menjadi pengobatan yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. hkm

Baca juga: Permen Karet ala UGM Angkat Plak Gigi, dari Kulit Buah Naga

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *