Riset PKM UGM, Warga Yogya Anggap Primbon Klenik, padahal…

 Riset PKM UGM, Warga Yogya Anggap Primbon Klenik, padahal…

Ilustrasi primbon Jawa (sumber: .hops.id)

SURABAYA – BQ | Sekitar 34 persen dari 97 masyarakat Yogyakarta yang disurvei secara acak menyatakan bahwa primbon Jawa merupakan kebudayaan klenik. Primbon Jawa juga dikatakan syirik dan kurang relevan pada era modern saat ini. Demikian hasil survei tim mahasiswa UGM yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH)

“Hasil itu dilatarbelakangi oleh persepsi masyarakat Kota Yogyakarta bahwa primbon Jawa tidak dapat dipercayai kebenarannya secara ilmiah dan rasional. Serta dianggap mendahului takdir dan kuasa Tuhan”, ujar Bagus Arianto, salah satu  di Kampus UGM, dilansir Sabtu (3/8/2024).

Bagus melakukan bersama empat rekannya. Yaitu Kenyo Kartikowengi, Zumrotush Sholihah, Punta Dharma Wijaya, dan Windy Susanty. Tim PKM-RSH ini mendapat pendampingan Dr Sartini MHum selaku dosen Fakultas Filsafat UGM.

Tim mahasiswa UGM melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang memiliki pengetahuan tentang primbon dan kebudayaan Jawa. Disimpulkan bahwa persepsi negatif sebagian masyarakat Kota Yogyakarta tercipta karena mereka tidak memiliki pemahaman menyeluruh tentang primbon Jawa.

Bagus Arianto mengatakan, penelitiannya bertujuan mencari tahu persepsi masyarakat Kota Yogyakarta terhadap eksistensi primbon Jawa. Juga, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut. Jawaban atas dua hal itu nantinya akan dipergunakan untuk menyusun strategi melestarikan primbon Jawa pada era modern.

Ilustrasi riset Primbon Jawa oleh tim mahasiwa UGM. (sumber: dok. UGM)

Pengalaman yang ‘Dititeni’ untuk Kosmik

Primbon Jawa sesungguhnya merupakan bentuk kebudayaan sekaligus proyeksi berdasarkan pengalaman nyata para leluhur Jawa. Pengalaman itu dititeni secara berulang dengan tujuan agar kosmik atau keseimbangan antara manusia dan alam semesta dapat terjaga.

“Primbon itu catatan dari para pendahulu dan leluhur kita tentang kehidupan manusia dan alam semesta,” ucap KMT Projosuwasono. Guru macapat Karaton Nyagogyakarta Hadiningrat itu menyampaikan keterangannya di Pendopo Pangurakan Yogyakarta.

Budayawan asal Kotagede Achmad Charris Zubair (ACZ) juga ikut mengomentari fenomena persepsi masyarakat modern terhadap primbon Jawa. Menurutnya, kesalahpahaman persepsi masyarakat terhadap primbon Jawa ini disebabkan karena ketidaksesuaian paradigma epistemologi yang digunakan dalam memahami primbon Jawa.

“Primbon Jawa sesungguhnya tidak dapat kita pahami menggunakan paradigma epistemologi Barat yang positivistik. Karena paradigma Barat dan paradigma Jawa adalah sesuatu yang berbeda,” papar Charis menanggapi.

Charis mengatakan, masyarakat Jawa itu kan sebetulnya masyarakat yang memiliki dasar untuk percaya kepada harmoni. Jadi kehidupan manusia Jawa itu mengagungkan tiga tata hubungan yang harus selalu harmoni.

“Yaitu hubungan dengan sesuatu yang transenden (Tuhan), hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam semesta. Primbon Jawa diciptakan oleh masyarakat Jawa untuk menjaga tiga harmoni itu” ucap Charris dilansir dari laman UGM, Kamis (3/8/2024).

Baca juga: Senjakala Bahasa Sunda di Keluarga ‘Blasteran’ Sunda-Jawa

Perlu Perhatian Pemerintah

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, Bagus Arianto beserta anggota tim lainnya mengusulkan agar primbon Jawa dilestarikan. Perlu mendapat perhatian pemerintah dengan dikenalkan kepada masyarakat luas. Caranya, dengan pengenalan di jenjang pendidikan dan masyarakat bahwa primbon Jawa adalah warisan budaya serta kearifan lokal.

Sedangkan untuk jenjang perguruan tinggi, tim mahasiwa UGM tersebut usul agar primbon Jawa mendapatkan tempat dalam bidang ilmu sosial-humaniora. Dan, menjadi objek kajian riset dalam rangka merumuskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan lokal di Indonesia. hkm

Baca juga: Diteliti, Mitos Ki Onggoloco dan Konservasi Hutan Wonosadi

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *