Senjakala Bahasa Sunda di Keluarga ‘Blasteran’ Sunda-Jawa

 Senjakala Bahasa Sunda di Keluarga ‘Blasteran’ Sunda-Jawa

Tim mahasiswa Unpad saat melakukan kunjungan penelitian ke komunitas Gerakan Cinta Kesenian Tradisional Banyumasan atau Gentra Sentramas.(sumber: unpad.ac.id)

SURABAYA – BQ | Partisipasi keluarga amalgamasi (pernikahan beda suku) Sunda dan Jawa sangat kecil dalam mengajarkan bahasa Sunda kepada anaknya. Bahasa Sunda mengalami senjakala di keluarga ini. Setidaknya itulah hasil penelitian sejumlah mahasiswa Universitas Padjajaran (Unpad).

Riset mengenai hal tersebut dilakukan berangkat dari kekhawatiran akan berkurangnya penutur bahasa daerah khususnya Bahasa Sunda. Penelitian dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dari berbagai fakultas rumpun sosiohumaniora, Unpad.

Mereka antara lain Ikmalludin dan Henhen Hendayeni, keduanya mahasiswa Imu Budaya. Kemudian Salman Ramdani Rachman (Ilmu Sosial Ilmu Politik), Salsabil Qodrunnada (Ilmu Hukum), dan Shelpi Nur Awaliyah (Ilmu Komunikasi).Mereka dibimbing oleh Dr Taufik Ampera MHum.

Tim riset ini masuk ke dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM RSH) yang mendapatkan pendanaan dari Ditjen Diktiristek RI.

Alasan Pilih Keluarga Sunda-Jawa

Ikmalludin menjelaskan, riset ini dilakukan terhadap keluarga amalgamasi yang menikah antara suku Sunda dan Jawa. Hal itu dilatarbelakangi karena Jawa dan Sunda merupakan beberapa suku adat terbesar di Indonesia.

Dalam riset tersebut, tim menguji efektivitas etnoparenting atau pengasuhan berbasis budaya dan literasi budaya, berupa pemahaman seseorang dalam memosisikan diri sebagai bagian dari keberagaman budaya di Indonesia.

Pengujian dilakukan untuk melihat bagaimana upaya masyarakat dalam mempertahankan vitalitas bahasa Sunda, khususnya di wilayah Kota Bandung.

“Kenapa Kota Bandung? Karena kami merasa bahwa Bandung merupakan kota besar di Jawa Barat dengan mobilisasi tinggi, dimana perputaran budaya dan ekonomi kerap terjadi,” jelas Ikmalludin dikutip dari laman resmi Unpad, hari ini (23/7/2024).

Dari penelitian yang dilakukan, tim menemukan bahwa partisipasi keluarga amalgamasi dalam menggunakan bahasa daerah, khususnya bahasa Sunda, sangat kecil. Akibatnya, anak-anak belajar dan berlatih kemampuan bahasa daerahnya dari lingkungan sekitar, seperti rumah dan sekolah.

Kriteria Informan Penelitian

Adapun metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah campuran atau dikenal juga dengan mixed methods, dengan kuota sampling sebagai teknik pemilihan sampelnya.

Terdapat beberapa kriteria yang harus dimiliki sebelum orang tersebut menjadi informan pada penelitian ini. Antara lain menikah antara suku Sunda dan Jawa, memiliki anak yang telah mengenyam pendidikan formal minimal SD, dan berdomisili di Kota Bandung.

“Sebetulnya, jika dibandingkan dengan pernikahan suku Sunda dengan suku lain pun seperti misalnya Batak terdapat beberapa persamaan. Hanya saja, mungkin perbedaannya bisa dilihat dari segi naming, misalnya dalam penamaan anak,” ujar  Taufik Ampera, dosen pembimbing penelitian.

“Namun, untuk penggunaan bahasa di keluarga kebanyakan netral alias menggunakan Bahasa Indonesia,” tambahnya. hkm

Baca juga: Hayam Wuruk Jadi Raja Usia 16 Tahun, Suka Menari dan Melawak

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *