Hayam Wuruk Jadi Raja Usia 16 Tahun, Suka Menari dan Melawak

 Hayam Wuruk Jadi Raja Usia 16 Tahun, Suka Menari dan Melawak

Patung Raja Majapahit Hayam Wuruk di Mojokerto. (foto: istimewa)

SURABAYA – BQ | Selama ini kita lebih banyak tahu tentang keagungan Hayam Wuruk, raja Majapahit yang memerintah pada 1351-1389 Masehi. Namun di balik keagungan namanya, ternyata sang raja memiliki talenta seni yang komplet. Dia piawai menari, mendalang, bahkan melawak.

Hayam Wuruk naik tahta menggantikan ibunya, Tribhuwana Tunggadewi, sebagai Raja Majapahit. Saat itu Tribhuwana Tunggadewi tercatat sebagai perempuan pertama yang memerintah di Jawa bagian timur. Ia merupakan garis keturunan langsung dari Raden Wijaya sang pendiri Kerajaan Majapahit.

Hayam Wuruk naik tahta di Majapahit dalam usia 16 tahun dan belum beristri. Dia putra dari Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Kertawardhana Bhre Tumapel (Cakradara). Hayam Wuruk merupakan cucu Raden Wijaya dari Gayatri, atau cucu dari Kebo Anabrang dari garis ayah.

Dia lahir bersamaan dengan meletusnya Gunung Kelud dan gempa bumi di Panbanyu pada tahun 1334 Masehi. Selain itu, ketika Hayam Wuruk lahir, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa, yang menyatukan Nusantara.

Hayam Wuruk naik tahta ketika ibunya, Tribhuwana Wijayatunggadewi, turun tahta dan menjabat Bhre (semacam gubernur, red) Kahuripan, yang tergabung dalam Saptaprabhu (semacam Dewan Pertimbangan Agung, red). Saat itu tahun 1351 M dan ketika itu Gayatri Rajapatni, nenek dari Hayam Wuruk, mangkat (meninggal dunia).

Ilustrasi patung Ken Arok. Raja Singasari ini disebut memiliki garis keturunan ke Hayam Wuruk.(sumber: wikipedia)

Memiliki Garis Keturunan Ken Arok

Menurut Nagarakretagama yang ditulis Mpu Prapanca, Hayam Wuruk memerintah Kerajaan Majapahit selama 39 tahun (1351-1389 Masehi) itu menggunakan gelar Abhiseka Maharaja Sri Rajasanagara.

Dari gelar ini dapat disimpulkan, Hayam Wuruk masih merupakan Rajasa, suatu dinasti yang memiliki garis keturunan Ken Arok, raja Singosari, yang bergelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi.

Menurut Sri Wintala Achmad dalam bukunya “13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa”,  Hayam Wuruk muda memiliki beberapa hobi di bidang seni. Antara lain menari, mendalang, menyanyi, hingga melawak dalam wayang.

Dalam bukunya yang diterbitkan tahun 2016 itu, Sri Wintala Achmad yang juga penulis sastra di sejumlah media di Indonesia itu mengatakan, Hayam Wuruk suka menari. Memainkan peran wanita sebagai Pager Antimun.

Hayam Wuruk juga menjadi dalang dengan gelar Tirtaraju. Bukan itu saja, Hayam Wuruk juga suka menjadi pelawak dalam pertunjukan wayang topeng dengan memainkan peran Gagak Ketawang. Saat dia menari, permaisurinya tidak segan untuk mengiringi dan berduet dengan dirinya.

Menghidupkan Trowulan, pusat peninggalan Majapahit di Mojokerto, dengan Sendratari Suryaning Majapahit. (foto: travelplusindonesia.blogspot.com)

Seni untuk Dekat dengan Rakyat

Kepiawaiannya dalam bidang seni itu dia gunakan sebagai media untuk dekat dengan rakyat melalui kegiatan turun ke bawah. Dia memantau dan memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya dengan melakukan sejumlah pembangunan wilayah yang dilalui, seperti jalan, jembatan, rumah ibadah dan yang lainnya.

Berbagai prasasti dan tanggul-tanggul sungai peninggalan Majapahit adalah untuk menunjang ekonomi petani. Namun, sumber penghidupan masyarakat Majapahit saat itu bukan hanya dari tani, tetapi juga dari perdagangan antarpulau, maupun internasional.

Hal ini tampak dari banyaknya tempat penyeberangan dan kota pelabuhan. Peninggalan itu terlihat di tepi aliran Sungai Brantas dan Sungai Solo. Sedang tempat penyeberangan itu adalah Canggu, Trung, dan Surabaya.

Di dunia perdagangan, Majapahit menjadi pusat perniagaan di Asia Tenggara. Komiditas yang diperdagangkn adalah garam, beras, lada, intan, cengkeh, dan pala. Kemudian juga kayu cendana dan gading. Kualitas barang-barang tersebut sangat baik dan diminati internasional.

Berdasarkan berita China, Majapahit masa itu telah menjalin hubungan dagang internasional dan persahabatan dengan sejumlah kerajaan-kerajaan besar lainnya, seperti Kerajaan China, Ayodya (Siam), Champa, dan Kamboja.

Terapkan Sistem Pajak

Di luar itu, Kerajaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk juga juga telah menerapkan sistem pajak kepada warganya. Berupa pajak usaha, pajak tanah, pajak profesi, pajak orang asing, dan pajak eksploitasi sumber daya alam.

Pada masa Hayam Wuruk, aktivitas perdagangan dan pajak mata uang emas sudah mulai ditinggalkan. Menurut Poesponegoro dan Notosusanto, mata uang masa Hayam Wuruk memakai gobog, seperti uang kepeng China.

Uang gobog dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Uang gobog ini menggunakan motif lokal dan biasa digunakan masyarakat di pasar Majapahit sebagai pecahan kecil dalam berdagang.

Patung Maha Patih Gajah Mada di kawasan Air Terjun Madakaripura. Gajah Mada disebut mengumandngkan Sumpah Palapa bertepatan dengan kelahiran Hayam Wuruk pada 1334 Masehi. (foto: kompas.com)

Pencetus “Bhinneka Tunggal Ika”

Kebijaksanaan Hayam Wuruk dan bimbingan dari Patih Gajah Mada , membuatnya mencapai kebesaran.

Kejayaan Majapahit di bawah Hayam Wuruk tidak hanya terlihat dari segi ekspansi wilayah, tetapi juga dalam bidang-bidang lainnya seperti di bidang seni, sastra, dan arsitektur.

Candi-candi megah seperti Candi Tikus, Candi Jawi, dan Candi Penataran dibangun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, menjadi bukti kecemerlangan arsitektur Majapahit. Peninggalan terbesar Hayam Wuruk adalah falsafah yang ia perkenalkan, Bhinneka Tunggal Ika.

Ungkapan ini diambil dari kakawin yang ditulis oleh Mpu Tantular yang berarti “Berbeda-beda tapi tetap satu”. Negara Indonesia kemudian mengambil falsafah ini untuk disatukan dengan lambang Burung Garuda dan Pancasila.

Falsafah Bhineka Tunggal Ika mencerminkan kebijaksanaan Hayam Wuruk dalam memahami dan menghargai keberagaman masyarakat Majapahit. Di tengah keragaman suku, agama, dan budaya, Hayam Wuruk memandangnya sebagai kekayaan yang harus dijaga bersama.

Wilayah Kekuasaan hingga Tiongkok

Konsep ini tidak hanya berlaku di tingkat lokal, tetapi juga terbukti dalam keberhasilan Majapahit mengelola keragaman wilayah yang luas. Pada saat Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjalankan pemerintahan, seluruh kepulauan Indonesia bahkan Jazirah Malaka mengibarkan panji-panji Majapahit.

Sumpah Palapa yang dinyatakan Gajah Mada pun terlaksana.

Daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, ditambah Tumasik (Singapura)dan sebagian Kepulauan Filipina.

Selain itu, kerajaan ini memiliki hubungan dengan Campa (Thailand), Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, Vietnam, dan Tiongkok.

Majapahit juga mempunyai armada angkatan laut yang tangguh di bawah pimpinan Mpu Nala. Dengan kekuatan militer dan strateginya, Majapahit mampu menciptakan stabilitas di wilayahnya. Dengan kekuatan militer dan strateginya, Majapahit mampu menciptakan stabilitas di wilayahnya.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (sumber: Instagram)

Selama pemerintahan Hayam Wuruk, terjadi tiga peristiwa penting. Pertama Peristiwa Bubat pada 1357 M. Kemudian, perjalanan suci Hayam Wuruk ke tempat leluhurnya. Terakhir, Upacara Crada yang diadakan untuk memeringati wafatnya Rajapatni pada 1362 M.

Akhir Hidup Hayam Wuruk

Setelah Gajah Mada mundur dari jabatannya dan wafat pada 1364 M, Hayam Wuruk mengangkat Gajah Enggon sebagai patih. Hayam Wuruk kemudian wafat pada 1389 M pada usia 55 tahun dan dimakamkan di Tajung. Setelah Gajah Mada dan Hayam Wuruk tiada, Kerajaan Majapahit terus mengalami kemunduran.

Peninggalan Hayam Wuruk selain sejumlah candi sebagai tanda masa keemsan arsitektur juga kitab kesusastraan. Antara lain Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca serta Kitab Sutasoma dan Kitab Arjunawijaya yang ditulis Mpu Tantular. hkm/berbagai sumber

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *