Kisah Kiper Singapura Hassan Sunny Sumbang Panti Muhammadiyah Rp120 Juta

 Kisah Kiper Singapura Hassan Sunny Sumbang Panti Muhammadiyah Rp120 Juta

KIPER Singapura Hassan Sunny ketika di lapangan dan saat bersama kelurga (sumber: Instagram/hassansunny18)

SURABAYA–BQ |  Penjaga gawang Singapura Hassan Sunny menyedot perhatian publik setelah menyumbang 10.000 dolar Singapur atau setara Rp120 juta (kurs Rp12.000) ke Panti Sosial Muhammadiyah. Uang itu dia peroleh dari penggemar sepak bola di China yang diberikan setelah dia berhasil “meloloskan” timnas Tiongkok ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia.

Dikutip dari channelnewsasia.com, Ahad (7/7/2024), saat pertandingan terakhir Singapura melawan Thailand, Hassan berhasil melakukan 11 penyelamatan. Hanya kebobolan tiga kali. China pun lolos menduduki posisi kedua pada klasemen grup C.

Hassan banjir pujian. Kedai makanan milik keluarganya di Tampines, Singapura, mendapatkan banyak uang. Gegaranya, warganet menyebarkan foto kode QR pembayaran kedai tersebut secara daring. 

Hassan mengatakan, dia membuat keputusan menyumbangkan uang itu tak lama setelah pertandingan kualifikasi. “Saat itulah saya kembali ke Singapura setelah pertandingan Thailand-Singapura di Bangkok,” ujarnya.

“Saya sedih dengan keluarga saya ketika saya menyadari, sebenarnya, ini bukan uang saya. Ini adalah sumbangan dan saya pikir apa yang bisa saya lakukan dengan ini adalah memberikan kembali kepada masyarakat,” ujar Hassan.

Pesepakbola Lions itu enggan membeberkan berapa total penerimaannya. Uang tersebut akan ditambahkan ke penggalangan dana yang diselenggarakan Muhammadiay Welfar Home sebagai bagian dari pesta amal pada akhir Agustus.

Dia juga mengakui, pemilihan Panti Sosial Muhammadiyah cukup mudah baginya. Sebab, rumah tersebut merupakan tempat penampungan anak laki-laki berusia 10-19 tahun yang diterima atas belas kasihan oleh lembaga Kemensos dan Pembangunan Keluarga (MSF).

“Tidak mudah, jika Anda duduk dan mendengarkan pengalaman mereka, dan anak-anak laki-laki menghadapi kesulitan [seperti] masalah tidak memiliki rumah sendiri dan tempat berteduh,” tambah Hassan.

Adapun, penjaga gawang di klub Lions City Sailor FC itu menyerahkan sumbangannya dalam bentuk cek kepada Kepala Panti Wreda Muhammadiyah Rahmatunnisa Abdul Majeed.

Di sisi lain, Rahmatunnisa menyampaikan terima kasih atas donasi tersebut. Dia mengaku tidak menduga panti asuhan uang dipimpinnya itu mendapatkan guyuran dana dari Hassan. “Saya percaya pada semangat untuk membalas kebaikan. Kita telah melalui masa-masa sulit dalam hidup kita. Saya pikir ini adalah salah satu contoh tindakan yang benar-benar dapat mengubah hidup orang lain,” ujar Rahmatunnisa.

Warung Nasi Padang

Hassan bin Abdullah Sunny (lahir 2 April 1984) atau lebih dikenal dengan nama Hassan Sunny merupakan penjaga gawang asal Singapura bermain di Liga Utama Singapura untuk klub Lion City Sailors FC sebagai kapten dan penjaga gawang di Timnas Singapura.

Meski sudah berusia empat puluh tahun, Hassan Sunny seperti dikutip laman FIFA tidak memiliki rencana untuk pensiun dalam waktu dekat.

Tumbuh dikelilingi oleh anggota keluarga yang bekerja di bidang restoran, bintang sepak bola Singapura ini mengambil langkah pertamanya ke dunia kuliner dengan membuka toko nasi padang di kampung halamannya.

Hidangan tersebut, yang terdiri dari nasi kukus dan berbagai lauk kecil, merupakan makanan pokok di Singapura.

Namun jika bukan karena serangkaian peristiwa yang hampir tidak masuk akal di masa kecilnya, Hassan bisa saja menghabiskan 20 tahun lebih di restorannya daripada di lapangan sepak bola.

Pengalamannya sebagai penderita asmalah yang memulai serangkaian kompetisi yang kini membuatnya mendapatkan lebih dari 100 caps internasional.

“Ketika saya berusia 13 tahun, saya mengikuti uji coba di klub sebagai gelandang kiri atau sayap kiri. Tetapi karena asma saya, saya selalu kesulitan setelah beberapa kali berlari. Merasakan serangan panik, dan harus duduk dan beristirahat.”

“Pada akhir uji coba, saya tidak terpilih dan mereka memulangkan saya. Namun saat keluar, saya melihat bahwa hampir tidak ada orang yang akan duduk sebagai penjaga gawang,” ujarnya.

“Jadi saya pikir saya akan mencobanya, tanpa sarung tangan atau apa pun, dan dari sana aku terpilih.”

Saat itu Hassan mungkin terpilih, tapi hanya sebagai kiper pilihan ketiga. Namun takdir berkata lain, Hassan muda tampil di turnamen sepak bola yang dimenangkan timnya, mendapatkan kesempatan untuk terbang ke London dan mewakili Singapura di turnamen global.

Dilirik Pelatih Robert Lim

Di sana ia ditemukan oleh pelatih muda nasional saat itu, Robert Lim, yang mengundang penjaga gawang tersebut ke kamp nasional. Sisanya, seperti kata mereka, adalah sejarah.

Ia menjadi salah satu pemain yang masuk ke Akademi Sepak Bola Nasional Singapura pada tahun 2000. Empat tahun kemudian Hassan melakukan debut internasionalnya untuk Lions, dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-20.

Hebatnya setelah usainya ke-40, ia kini masih menjadi penjaga negara dan, seperti yang ia jelaskan, masih memiliki semangat dan semangat yang sama terhadap olahraga ini.

 “Saya telah menghadapi lebih banyak titik terendah daripada titik tertinggi dalam karier sepak bola saya, tetapi setiap kali ada peluang untuk menang, itu adalah perasaan yang manis,” ujarnya. hkm

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *