Minat Menjadi Guru Rendah

 Minat Menjadi Guru Rendah

Minat menjadi guru rendah disebabkan karena beberapa sebab. Padahal, guru adalah sosok yang sangat menentukan kualitas suatu bangsa. Jika guru itu berkualitas, maka kompetensi warga negara itu juga akan berkualitas.

Sebaliknya, jika mayoritas guru tidak berkompeten, tentu saja para lulusan di negeri itu pun tidak berkompetitif. Sulit bersaing di kancah mancanegara.

Guru merupakan warga negara yang sangat menentukan apakah warga negara itu mampu berkompetisi dengan warga negara lain. Konon, ketika Kekaisaran Jepang takluk karena bom atom pada Perang Dunia II, sang kaisar meminta bawahannya untuk mengecek berapa guru yang selamat dan mampu mengajar.

Belajar Dari Jepang, Bangkit Dari Kalah Perang dan Melejit Kemudian

Kaisar Jepang menyadari bahwa untuk membangun kembali negeri yang hancur adalah dengan ketersediaan guru. Gedung sekolah memang masih banyak rusak.

Namun jika guru yang mumpuni masih aktif dan sehat, maka negeri Jepang bisa perlahan dibangun lagi melalui pendidikan. Ya, semua dimulai dari kecukupan jumlah guru dan kecakapan SDM gurunya.

Hanya butuh 20an tahun, Jepang kembali bangkit. Tak hanya bangkit, bahkan Jepang bisa melejit lebih tinggi dari kondisi sebelum perang.

Pada 1960an ekonomi Jepang lebih baik daripada sebelum PD II. Produk-produk Jepang mulai membanjiri banyak negara. Antara 1970an hingga 1990 disebut sebagai Japanese Economic miracle (wikipedia).

Awalnya yang hanya meniru produk Barat, dalam waktu singkat produk-produk Jepang punya performa yang lebih baik daripada produk Barat. Kendaraan buatan Jepang lebih ramping dan lebih hemat bahan bakar ketimbang buatan Barat. Produk elektronik jepang pun lebih friendly bagi user.

Kemajuan ekonomi pasti dipengaruhi SDM yang berkompeten. Dan semua SDM itu hasil pendidikan yang sistematis dan dijalankan oleh SDM professional serta guru yang berkualitas.

Bagaimana dengan Indonesia?

Saat tulisan ini dibuat, di Indonesia minat menjadi guru rendah sekali. Apa saja sebabnya? Setidaknya ada empat sebab utama mengapa minat menjadi guru rendah.

Alasan pertama minat menjadi guru rendah, gajinya tidak besar

Wajar jika ada orang bekerja lalu ingin gaji yang besar. Apalagi jika orang itu punya prestasi akademik yang bagus ketika kuliah. Sedangkan di Indonesia, pemuda pintar lebih memilih menjadi dokter, arsitek, programmer ataupun pengusaha ketimbang menjadi guru.

Bahkan anak muda sekarang lebih suka memilih menjadi YouTuber ketimbang jadi guru. Karena, penghasilan dari iklan yang didapat menjadi content creator bisa lebih banyak daripada menjadi guru. Persoalan gaji menjadi penyebab minat menjadi guru rendah.  

Sehingga, jurusan keguruan pun tidak diminati para lulusan SMA terbaik. Akibatnya, para sarjana pendidikan bukan berasal dari lulusan SMA dengan nilai teratas.

Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2020, guru non-PNS jumlahnya 937.228 orang. Dan 728.461 di antaranya adalah guru honorer sekolah. Guru honorer digaji langsung dari kepala sekolah atau dari pemerintah daerah, bukan guru ASN/PNS.   

Anggaran pemerintah pusat tidak mencukupi untuk memberi tunjangan/insentif bagi guru honorer. Walaupun Mendikbud 2019-2024 Nadiem Makarim sudah mengeluarkan peraturan (Permendikbud no 19 tahun 2020) gaji guru honorer boleh diambil dari dana BOS. Namun hingga kini kebijakan tersebut belum menampakkan perubahan yang menyeluruh. 

Alasan kedua, minat menjadi guru rendah karena jenjang karir profesi guru non-ASN yang tidak jelas

Menurut data BPS pada, pada 2022-2023 jumlah guru di lingkungan Kemenristekdikti 3,37 juta orang (fortuneidn.com tayang 30/5/2023). Dari laman yang sama, tercatat 874.685 guru yang berada di lingkungan Kemenag RI.

Secara umum, guru dibagi menjadi dua: guru ASN dan non-ASN. Ada perbedaan data jumlah pesentasenya. Di situs jpnn.com, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyebutkan 52,13 persen bukan guru ASN (tayang 3/12/2019).

Ada yang disebut guru honorer, guru bantu pusat, ada juga guru tetap yayasan, guru tidak tetap atau pegawai tidak tetap (GTT/PTT). Ada GTT/PTT provinsi dan ada GTT/PTT kabupaten-kota.

Minat Menjadi Guru Rendah, Khususnya Jadi Guru Non-PNS

Muhammad Ramli Rahim, Ketum IGI mayoritas guru di Indonesia masih didominasi guru honorer, meski berbeda-beda sebutannya. “Yang jelas mereka bukan PNS, bukan juga PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, Red.),” ungkapnya dikutip dari jpnn.com.     

Jika guru PNS punya jenjang karir yang jelas, maka berbeda nasib dengan guru non-PNS. Guru ASN memiliki jalur karir yang jelas dan jenjang golongan kepangkatan. Jenjang fungisonal guru ASN ada empat dimulai dari yang paling bawah sebagai berikut:

Guru Pertama
Guru Muda
Guru Madya
Guru Utama    

Selain jenjang fungsional, guru ASN juga ada golongan kepangkatan seperti halnya di Kementerian lain atau badan/Lembaga negara. Dengan golongan kepangkatan dan jenjang fungsional ini tentu berpengaruh pada sistem remunerasi/gaji.

Sebaliknya, guru swasta dan guru honorer tidak memiliki jenjang karir seperti ini. Sehingga, publik pun memandang sebelah mata karir guru.

Alasan ketiga, dianggap tidak prestise

Sejak Orde Baru hingga Orde Reformasi kini, prodi keguruan bukanlah jurusan favorit di perguruan tinggi ternama.

Umumnya, para lulusan SMA ramai-ramai bersaing ketat memperebutkan bangku kuliah di jurusan arsirektur, kedokteran, teknik informatika, desain grafis, pertambangan, komunikasi ataupun ekonomi.    

Orang Tua Tidak Mendukung

Tidak banyak orangtua yang mendorong anaknya agar menjadi guru atau mengarahkan anaknya kuliah di jurusan keguruan. Lulusan-lulusan terbaik dari sejumlah SMA terbaik bisa dipastikan kurang meminati jurusan keguruan.

Walhasil, yang mau masuk prodi keguruan pun bukanlah alumni-alumni kualitas A. Kebanyakan anak berprestasi justru memilih jurusan favorit di atas tadi.

Para orangtua pun umumnya tidak mengizinkan anak-anaknya berkuliah di jurusan keguruan. Apalagi jika bukan karena jenjang karir yang tidak jelas seperti ini. Semua dihitung dengan uang. Orangtua memikirkan biaya kuliah lalu pekerjaan apa yang bakal bisa mendapat gaji yang besar dan karir yang bagus.

Lantas Bagaimana Agar Profesi Guru Lebih Diminati?

Demikian pula kaum muda. Pasti juga kurang berminat dengan profesi guru jika prospek karir guru mandek. Pasti kaum muda pintar memilih profesi-profesi yang lebih menggiurkan secara gaji dan prospek karirnya.

Tiga sebab ini harus dicarikan solusinya agar kualitas SDM negeri kita naik kelas. Jika tiga aspek di atas tadi bisa dibenahi, maka kualitas manusia Indonesia bisa lebih baik dan mampu berkompetisi minimal di level Asia. Padahal, kebutuhan guru yang berkualitas itu adalah salah satu kebutuhan pokok di masa kini.

Bukankah pembangunan kualitas manusia harus didahulukan dibandingkan pembangunan fisik. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.

Foto: pixabay

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *