Gisela Raih Dua Gelar di Unair-Maastricht University, IPK 3,97
Gisela Keyla Mathea, wisudawan Fakultas Hukum (FH) berhasil meraih gelar dari Universitas Airlangga (Unair) dan Maastricht University. (Dok. Unair)
SURABAYA – BQ | Menyelesaikan pendidikan di dua universitas ternama sekaligus, keren banget. Gisela Keyla Mathea orangnya. Dia menjadi wisudawan terbaik Fakultas Hukum (FH) yang meraih dua gelar sekaligus dari Universitas Airlangga (Unair) dan Maastricht University Belanda. Indeks prestasi kumulatif (IPK)-nya nyaris sempurna, yaitu 3,97.
Tidak mudah bagi Gisela untuk menjalani pendidikan di dua universitas ternama. Pasalnya, kedua universitas tersebut memiliki sistem pendidikan yang sangat berbeda yang mengharuskannya beradaptasi dengan cepat. Namun, hal itu tidak sedikit pun menyurutkan semangat belajar Gisela.
“Karena sistem pendidikan yang sangat berbeda, aku bergabung dengan grup studi bersama mahasiswa hukum Indonesia yang juga menempuh belajar di sana. Having a support system where I could study together, has really helped me get used to the different study methods (Memiliki sistem pendukung di mana saya bisa belajar bersama, sangat membantu saya terbiasa dengan metode belajar yang berbeda, red),” ujar Gisela dilansir dari laman Unair, Senin (12/8/2024).
Tidak hanya mendapatkan ilmu akademik selama perkuliahan, Gisela juga mendapatkan pengalaman baru yang tidak terlupakan di Belanda. Ia menceritakan, orang lokal Belanda sangat terbuka dan cenderung blak-blakan berbeda dengan budaya Indonesia.
“Sebagian dari warga lokal di sini itu terbiasa untuk straight-forward (mudah) dalam berbicara dan sedikit harsh (kasar). Berbeda halnya dengan budaya lokal di Indonesia, meskipun blak-blakan seperti budaya Surabaya namun masih menjunjung unggah-ungguh,” paparnya.
Diperkenalkan Bahasa Asing sejak Kecil
Tidak mengherankan jika wisudawan asal Kota Pahlawan itu sangat lihai dalam berbahasa asing. Hal ini disebabkan ia telah diperkenalkan bahasa asing oleh sang keluarga sejak kecil. Bahkan, untuk kehidupan sehari-hari, ia dan keluarga menggunakan bilingual.
“Memang sejak kecil saya telah belajar di sekolah yang menggunakan International Baccalaureate (IB) yang mengharuskan mengerti bahasa asing lebih awal. Saat di rumah pun juga kami kadang mix indo-english untuk berbicara setiap harinya,” jelas Gisela.
Gisela mengungkapkan, selama menempuh studi S1, ia tidak berpatokan pada nilai atau angka tertentu melainkan terus melakukan yang terbaik tiap semester. Dengan ini, ia dapat menikmati perkuliahan, meraih IPK memuaskan, sekaligus menjadi wisudawan terbaik FH UNAIR. hkm
Baca juga: Gembala Sapi Jadi Profesor, saat Kuliah ‘Ngonthel’ 40 Km

