Stop Perundungan di Sekolah dengan Wani Curhat
SURABAYA-BINAQOLAM: Stop Perundungan di Sekolah dengan Wani Curhat | Kasus demi kasus perundungan di sekolah muncul selama di periode Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, atau yang biasa disebut dengan MPLS. Di setiap daerah, hampir setiap hari kasus perundungan terjadi.
Contohnya seperti yang terjadi pada MPLS di sebuah sekolah di Cianjur, Jabar. Tepatnya di SMP Negeri Sindangbarang, Cianjur. AD (12), murid baru di SMP tersebut, jadi korban kekerasan dan perundangan dari senior-seniornya.
Bahkan, AD sampai harus dilarikan ke RSUD Cianjur untuk menjalani pemeriksaan USG dan rontgen. Selain itu korban pun menjalani operasi CT Scan untuk memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja pasca mengalami perundungan.
Masih Saja Terjadi
Insiden tersebut terungkap setelah korban mengeluh nyeri di bagian belakang dan sulit ketika hendak buang air kecil, dan saat berjalan. Ironisnya, guru dan perwakilan sekolah tidak ada yang melaporkannya kepada orang tua AD.
’’Kondisi anak saya sekarang masih nyeri di bagian punggung belakang. Bekas tonjokan juga masih ada. Sempat di-rontgen, alhamdulilah tidak ada yang patah. Tapi dokter telah mengatakan ada memar di bagian tulang punggung belakang,’’ begitu yang diungkapkan Dian, orang tua AD.
Yang dilakukan korban AD dengan mengeluhkan kepada orang tuanya dan bercerita ke orang tuanya itu yang seharusnya dilakukan siswa-siswa korban perundungan yang lain saat mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan.
Wujud dari gerakan “Wani Curhat” yang disuarakan Forum Anak Jawa Tengah. Gerakan tersebut digemakan ketika menyambangi 251 sekolah dalam ajang “Forum Anak Goes to School 2024”. Gerakan tersebut serentak digelar di 25 kabupaten/kota yang terletak di Jateng.
Seperti Jumat, 26 Juli, menyambangi SMA Negeri 6 Semarang. Kegiatan tersebut dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Jateng Ema Rachmawati. Kepala Dinas Perempuan dan Anak Jateng Retno Sudewi pun turut menemani.
Menurut Ema, “Wani Curhat” bakal jadi jurus meminimalisir tindak kekerasan terhadap anak. Itu bisa jadi komunikasi efektif orang tua ke anak. Orang tua harus menghapuskan gap atau celah saat berkomunikasi sehingga anak bisa curhat kepada sosok yang tepat.
’’Saya mengajak orang tua belajar berkomunikasi dengan Generasi Z. Orang tua pun bisa jadi teman yang baik, tanpa menge-judge, namun bisa diajak sebagai teman mengobrol,’’ tutur Ema.
Ema juga menyerukan kepada pihak sekolah mewujudkan tempat nyaman untuk siswa. Bukan hanya nyaman belajar, namun juga aman dari orang-orang yang berpotensi akan bersikap tidak menghargai dan menghambat potensi siswa.
Cegah Dengan Aplikasi Mobile & Call Center
Selain di area dalam sekolah, begitu pula di area luar sekolah. Di Jateng misalnya. Sudah ada aplikasi yang membantu masyarakat Jateng saat dihadapkan dengan permasalahan pelik dan butuh teman curhat.
Namanya aplikasi “Jogo Konco”. Aplikasi ini bisa on call. Bisa juga langsung berkunjung ke RSJ Amino Gondohutomo yang menyediakan layanan curhat 24 jam. ’’Curhat tentang apa saja bisa,’’ seloroh Ketua Forum Anak Jateng Dendi Resando.
Pada acara tersebut, siswa juga diberikan pengetahuan tentang soal Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA). ’’Tujuannya untuk mengusung Jogo Konco. Selain itu di sini juga bisa jadi pemberian materi terkait pencegahan kekerasan seksual dan internet yang sehat,’’ tambah Dendi. (YMP)

