IPK Pas-pasan Berkarya di Exxon Mobil, Ini Rahasianya!

 IPK Pas-pasan Berkarya di Exxon Mobil, Ini Rahasianya!

Amri Zuhal (depn kanan berkaca mata) alumnus Teknik Industri UMM 2011 yang kini berkarya di perusahaan minyak dan gas multinasional, Exxon Mobil Corporation (foto : Istimewa)

SURABAYA – BQ | Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Amri Zuhal, jadi bukti nyata bahwa indeks prestasi kumulatif (IPK) tak menjamin masa depan seseorang. Lulusan Teknik Industri UMM 2011 itu kini bekerja di perusahaan minyak dan gas multinasional Exxon Mobil Corporation. Padahal, IPK-nya pas-pasan. Tidak sampai 3,00. Apa rahasianya?

“Dulu IPK saya bahkan tidak sampai 3.00. Tapi saya tidak bersedih. Saya aktif berorganisasi saat di UMM. Hal itu membuat saya bisa menghadapi berbagai tantangan pekerjaan. Hingga sekarang saya memegang posisi sebagai health, safety, and environment sepcialist di ExxonMobil,” ujarnya dikutip dari laman UMM, Ahad (28/7/2024).

Amri, sapaan akrabnya, bercerita bahwa ia sangat aktif di berbagai kegiatan saat menjadi mahasiswa. Mulai di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah hingga menjadi ketua senat mahasiswa UMM. Bahkan ia membawa nama UMM hingga nasional berkat keaktifan dan loyalitasnya.

Saat lulus, Amri tahu diri karena sebagian perusahaan tak begitu melirik mereka yang memiliki IPK rendah. Maka ia memanfaatkan kelebihannya di bahasa Inggris dan memperkuatnya sebagai senjata bersaing di dunia kerja. Bahkan ia menawarkan diri untuk bekerja tanpa dibayar untuk membuktikan dirinya bisa bekerja dengan baik.

“Waktu itu saya bilang ke pihak manajemen untuk bekerja selama enam bulan tanpa dibayar dan meminta evaluasi mereka. Mereka akhirnya mencoba kinerja saya. Alhamdulillah, tidak sampai dua bulan saya disodori kontrak kerja,” tambahnya.

Bekal Soft Skill dari UMM

Menurut dia, bekal soft skill dari UMM berhasil membawanya ke posisi sekarang. Tidak hanya saat melamar dan mendapatkan kerja. Tetapi juga saat membaur dengan para teman kerja dan kolega. Ia tidak merasa minder dengan mereka yang lulusan dari kampus ternama Indonesia maupun dunia.

Ia menilai, dalam pekerjaan, yang paling penting adalah bagaimana seseorang bisa tahan gesekan. Bisa bernegosiasi, berkomunikasi yang baik, presentasi yang efektif, dan lainnya.

“IPK memang hal pertama yang dilihat saat melamar kerja. Tapi softskill yang menentukan ke depannya. Kita harus bisa bekerja sama, menghargai waktu, bertahan dari tekanan dan lainnya,” ujar Amri.

“Maka skill manajemen konflik dan problem solving yang saya dapat selama di UMM sangat membantu. Percuma nilai bagus tapi tidak bisa kerja dengan baik. Perusahaan tidak butuh mereka yang pintar aja,” sambungnya.

Ia pun berpesan kepada anak-anak muda untuk menjadi yang terbaik. Maksudnya, ketika menjadi pegawai maka harus menjadi pegawai yang baik. Jika menjadi pengusaha juga harus menjadi pengusaha yang baik.

“Misal di dunia kerja, sebagai fresh graduate, jangan pernah lihat gaji dulu. Gaji nomor dua, yang penting kita dikasih ruang untuk aktualisasi diri. Nah, kita buktikan di situ. Saya yakin gaji dan pekerjaan akan mengikuti. Tunjukkan kemampuanmu dan lampaui harapan perusahaan,” pungkasnya. hkm

Baca juga: Satriyo Samudra, Mahasiswa FPK Unair, yang Sukses Jadi ‘Ksatria Samudera’

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *