Mahasiswa UNS Ciptakan Alat Pendeteksi Emosi Anak Autis

 Mahasiswa UNS Ciptakan Alat Pendeteksi Emosi Anak Autis

Tiga mahasiswa UNS yang menciptakan alat pendeteksi emosi anak autis. (sumber: uns.ac.id)

SURABAYA – BQ |Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menciptakan alat pendeteksi emosi khusus bagi anak dengan autisme. Alat bernama EMOKIDS ini bisa mendeteksi emosi anak autis secara real time. Sehingga membantu tenaga pendidik di sekolah luar biasa (SLB) dalam mengidentifikasi dan merespons emosi anak autis dengan lebih efisien.

Alat tersebut merupakan inovasi tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta (KC) UNS. Alat ini diharapkan dapat membantu orang tua dan guru dalam memahami kondisi emosi anak dengan autisme.

Adalah tiga mahasiswa yang mengembangkan alat ini. Yaitu Ananda Putra Kanieza dari Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT). Siti Nurohmahwati dari Prodi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Terakhit, Ade Rifky Setiawan dari Prodi D-3 Teknik Informatika Sekolah Vokasi (SV).

Pengembangan alat ini bermula dari keprihatinan mahasiswa UNS tersebut terhadap kesulitan anak dengan autisme dalam mengekspresikan emosi. Dengan latar belakang ilmu pendidikan dan teknologi, mereka memutuskan untuk menciptakan solusi inovatif.

 “Tujuan utama kami adalah membantu para tenaga pendidik di sekolah luar biasa dalam mengidentifikasi dan merespons emosi anak autis dengan lebih efisien,” ujar Ananda selaku ketua tim, dilansir dari laman UNS, Sabtu (27/7/2024).

“EMOKIDS dirancang khusus untuk mendukung proses pembelajaran dan interaksi sosial anak autis. Para tenaga pendidik dapat memberikan perhatian dan dukungan yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan khusus mereka,” imbuh Ananda.

Deteksi Gerak Wajah, Ekspresi Mata, Bahasa Tubuh

Di bawah bimbingan Dr Eng Faisal Rahutomo ST MKom., EMOKIDS dirancang mampu mengidentifikasi dan memantau emosi anak dengan autisme secara real-time. Alat ini menggunakan kombinasi teknologi image processing atau pemrosesan gambar dan voice recognition atau rekognisi suara.

“Ada algoritma machine learning. Untuk mendeteksi perubahan gerakan wajah, ekspresi mata, dan bahasa tubuh anak autis yang terkait dengan berbagai emosi. Data yang diperoleh kemudian diolah dan ditampilkan melalui aplikasi mobile yang mudah digunakan oleh orang tua dan pendidik,” tambahnya.

Keunggulan alat ini tidak hanya pada deteksi dan peringatan, tetapi juga pada pendekatan preventif. EMOKIDS memungkinkan membantu tenaga pendidik merencanakan intervensi yang sesuai. Tenaga pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak-anak autis.

Selain itu, pengembangan teknologi ini telah terintegrasi dalam satu prototipe sehingga biaya yang dikeluarkan lebih terjangkau. Alat ini juga mampu mendukung pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan anak autis di lingkungan pendidikan.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa inovasi teknologi dapat memberikan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, terutama dalam Pendidikan Luar Biasa (PLB). Mereka berharap penelitian dan pengembangan EMOKIDS dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi masyarakat. hkm

Baca juga: Skripsi Unik, Fisika Pencak Silat untuk Literasi Ilmiah Siswa

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *