Usia Baru 22 Tahun, Frista Chairunnisa Lulus Master di UGM
Frista Chairunnisa (sumber: ugm.ac.id)
SURABAYA – BQ | Usianya baru 22 tahun sudah lulus Master di Universitas Gadjah Mada (UGM). Itulah Frista Chairunnisa, yang diwisuda Rabu (24/7/2024) lalu di Graha Sabha Pramana. Frista diwisuda bersama 833 lulusan Program Magister (S2) lainnya.
Mahasiswa Program Studi S2 Bioteknologi Sekolah Pascasarjana (SPs) itu lulus pada usia 22 tahun 9 bulan 27 hari. Padahal rerata usia lulusan Program Magister periode ini adalah 29 tahun 6 bulan 15 hari.
Frista berasal dari Pangkalpinang, Bangka Belitung. Anak pertama dari 4 bersaudara ini lahir 25 Agustus 2001. Sejak usia dini sudah diajarkan oleh kedua orangtuanya untuk belajar membaca dan berhitung. Sehingga pada umur empat tahun ia sudah berani masuk ke jenjang SD.
Meski tidak mengikuti program akselerasi, Frista menanamatkan jenjang bangku SD, SMP, dan SMA dalam waktu normal. Saat lulus SMA dan mendaftar kuliah, Frista pun masih berumur 16 tahun. “Saya masuk SD di usia 4 tahun. Di bangku SMP dan SMA tidak ikut akselerasi,” ujarnya dikutip dari laman UGM, Jumat (26/7/2024).
Setelah lulus dari sarjana Biologi, ia termotivasi kuat untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat magister. Ketertarikan Frista pada Bioteknologi, khususnya dalam riset penyakit kanker, membawanya untuk memilih UGM sebagai tempat melanjutkan studi pascasarjana.
“UGM memiliki pusat riset kanker yang aktif mengeksplorasi bahan-bahan alam Indonesia sebagai agen kemoprevensi kanker. Saya kira tumbuhan herbal Indonesia adalah potensi luar biasa.Bisa kita bawa untuk dikenal di mata internasional,” tambah Frista.
Penguasaan Penggunaan Alat Lab Jadi Tantangan
Menempuh studi magister di bidang Bioteknologi SPs UGM bukan tanpa tantangan. Salah satunya adalah penyesuaian pada penguasaan penggunaan alat laboratorium. “Saya butuh waktu lama dan melewati banyak kegagalan untuk menghasilkan data yang benar dan layak,” kata Frista yang lulus dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,87.
Setelah beberapa kali mencoba, ia berhasil saat kali pertama melihat wujud bentuk dari sel kanker yang menjadi momen penting dalam studinya. “Saya bersyukur tergabung dalam grup riset kanker yang yang saling mendukung dalam kegiatan penelitian,” tambahnya.
Selama masa studi S2, Frista terlibat dalam beberapa proyek penelitian terkait pengembangan potensi bahan alam sebagai agen antikanker. Di antaranya menakar potensi efek antikanker ekstrak daun kirinyuh sebagai agen sitotoksik Kombinasi Doxorubicin pada Sel Kanker Payudara Luminal A.
Frista mengaku dukungan dari orang tua dan dosen pembimbing menjadi faktor penting dalam kesuksesan studinya. Selama kuliah, para dosen selalu memberi arahan dan memantau perkembangan riset disertasinya.
“Beliau-beliau selalu memberi arahan bagaimana membuat pekerjaan lebih efektif dan sabar ketika saya membuat banyak kesalahan,” tambahnya.
Setelah menyelesaikan studi pascasarjana, Frista berencana kembali ke Provinsi Bangka Belitung untuk mengabdi sebagai dosen. Sambil mengajar, ujarnya, ia ingin mengeksplorasi sebanyak-banyaknya bidang penelitian di bidang biologi.
Ia selalu memegang prinsip agar tetap bersikap rendah hati dalam belajar. “Jangan pernah malu belajar dari siapapun. Merendahlah bagai cangkir yang diletakkan di bawah agar air dari teko di atasnya bisa masuk,” nasihatnya. hkm
Baca juga: Dona Wisudawan Terbaik S3 Unair Ber-IPK 4,00, Ini Tipsnya

