Endah Sulistyowati, Guru yang Mengantar Banyak Sekolah Jadi Sekolah Adiwiyata
Endah Sulistyowati, Guru Peduli Lingkungan di Klaten yang selalu bawa sekolahnya jadi Sekolah Adiwiyata. (Foto: Solo Pos)
SURABAYA-binaqolam.com | Endah Sulistyowati itu seperti Raja Midas. Di sekolah mana pun dirinya menjabat sebagai Kepala Sekolah, maka sekolah itu pun bakal meraih predikat Sekolah Adiwiyata.
Seperti sekarang ini ketika Endah menjabat sebagai Kepala SMPN 5 Klaten. Sebulan lalu, tepatnya saat 25 Juni 2024, SMPN 5 Klaten menerima penghargaan Sekolah Adiwiyata untuk Tingkat Provinsi Jateng.
Penghargaan itu diberikan kepada SMPN 5 Klaten bersamaan dengan acara puncak di Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Provinsi Jateng, yang berlangsung di Kebun Raya Baturraden, Purwokerto.
Poles Tiga Sekolah Jadi Percontohan Lingkungan
Sekolah yang berada di Desa Jomboran, Kecamatan Klaten Tengah itu jadi satu dari total tiga sekolah yang lolos dalam penilaian Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi Jateng saat ini.

Di balik kisah sukses SMPN 5 Klaten tersebut ada sosok Endah. Penghargaan tersebut sekaligus jadi kado istimewa bagi Endah yang akan memasuki masa purna tugasnya pada akhir bulan Juli ini.
’’Setelah pensiun, aku sangat yakin, anak didik dan rekan-rekan guru bakal meneruskan apa yang sudah aku mulai selama ini. Sebab, itu sudah terinternalisasi. Tak lagi sekadar program,’’ kata Endah, dalam wawancaranya dengan Solo Pos.
Latar belakangnya sebagai penggiat lingkungan jadi bekal Endah di dalam mengajarkan pendidikan lingkungan bagi siswa, guru, dan masyarakat selama puluhan tahun. Dia pun di Klaten sudah dikenal sebagai aktivis Srikandi Sungai Klaten.
Bersama para perempuan Klaten, Endah mendedikasikan diri untuk kelestarian sekitar kawasan sungai di Klaten. Itulah yang kemudian terbawa ke sekolah dan dia tanamkan ke anak didik dan rekan sejawatnya.
Endah mengungkap, ketika dia masih belum jadi kepala sekolah, dia mengoptimalkan di jam pelajarannya dalam memberikan pemahaman dan pendidikan kepada siswanya. Itu dia refleksikan dengan mengajak anak didiknya membersihkan kelas.
Dia juga pernah membuat kontrak belajar yang salah satu poinnya itu harus membuang sampah dengan benar. Ternyata, dari situlah sudah muncul diskusi. Terutama saat tidak tersedianya bak sampah yang memadai. ’’Saya pun berdiskusi dengan pihak sekolah, dan akhirnya disediakan bak sampah,’’ kenang Endah.
Baca juga: Gaji Guru di Indonesia Harusnya Setara Komisaris Untuk Bersaing Internasional
Luncurkan Program One Student One Plant
Sebelum bertugas di SMPN 5 Klaten, Endah pernah ditempatkan di beberapa sekolah, di Sukoharjo sampai Klaten. Di Klaten, dia pernah mengabdi di beberapa sekolah yang ada di Jogonalan, Klaten, sampai Karangnongko.
Saking seringnya dia membawa sekolahnya menyandang predikat Sekolah Adiwiyata, Endah di kalangan rekan-rekannya sesama guru dan kepala sekolah di Klaten, dipanggil sebagai Guru Peduli Lingkungan.
Endah tidak ingin, ilmu yang sudah dia berikan tentang menjaga lingkungan ini hanya di dalam kelas pengaplikasiannya. Dia kerap mengajak anak didiknya belajar di luar ruang kelas.
’’Memberikan contoh bermacam-macam sampah, ya langsung (diperlihatkan) lewat dari sampah yang ada di sekeliling kelas. Mereka tidak hanya diajari jenis-jenis sampah, tapi juga diperlihatkan. Setelah itu dikelola,’’ tutur Endah.
Tidak jarang dia melakukan inovasi yang berkaitan dengan program lingkungan itu. Dia saat menjabat sebagai Kepala SMPN 1 Jogonalan misalnya. Saat itu, calon siswa diminta menukar sampah plastik dengan stopmap. Program one student one plant termasuk dari inovasinya.
Baca juga: Bu Guru Diana Mengajar di Pedalaman Papua Selatan, Donasi Masuk Dari TikTok
Butuh Kesabaran Ekstra Membalik Keadaan
Meski begitu, jalannya tidak selalu mulus. Kendala selalu ada. Di sekolah misalnya. Saat dia mensosialisasikan programnya, terkadang belum ada regulasi dari kepala sekolah di tempat dia mengajar.
Kondisi sosial daerah setempat dan psikologis siswa juga terkadang belum siap diajak sadar lingkungan. ’’Aku memperbaiki karakternya terlebih dahulu, sebab tidak mungkin membenahi lingkungan selama karakternya tidak mendukung,’’ kata Endah.
Kerap berpindah-pindah sekolah juga membantunya bisa merumuskan formula tepat di dalam mendidik warga sekolah sesuai ekosistem sekolah. Bukan hanya siswa dan guru, Endah juga merangkul wali murid dalam programnya ini.
Tapi, kembali lagi, Endah tidak sekadar menghitung berapa banyak sekolah yang sukses dia antar sebagai Sekolah Adiwiyata. ’’Seberapa besar nilai-nilai kecintaan lingkungan bisa tertanam dalam diri seluruh warga sekolah. Itu yang terpenting,’’ tegasnya. (YMP)
Baca juga: Kita Bisa Pintar Karena Guru
Sumber foto: solopos

