Bu Guru Diana Mengajar di Pedalaman Papua Selatan, Donasi Masuk Dari TikTok

 Bu Guru Diana Mengajar di Pedalaman Papua Selatan, Donasi Masuk Dari TikTok

Diana, guru mengajar Papua Selatan. Foto: dok pri

SURABAYA-binaqolam.com | Indonesia tak hanya kekurangan guru berkualitas, namun juga tidak merata dalam penempatannya. Masih banyak daerah terpencil kekurangan guru. Apalagi gaji guru tak kompetitif dibandingkan profesi di dunia industri. Sehingga pendidikan kita masih belum beranjak.

Angka buta huruf atau buta aksara di Indonesia mencapai 2,6 juta jiwa. Jumlah tersebut berdasarkan dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) dua tahun lalu. Angkanya bisa berubah tahun ini.

Tapi, dari jumlah tersebut, provinsi Papua jadi penyumbang terbesarnya. Dibandingkan provinsi lainnya Papua berkontribusi sebanyak 18,81 persen buta huruf di Indonesia. Di luar Papua, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terdekat dengan persentase 11,03 persen.

Tugas Di Kabupaten Mappi, Papua Selatan, Sarana Belajar Sangat Minim

Diana Christiana Da Costa Ati, seorang guru di SD Negeri Atti, Distrik Minyamur, Mappi, termasuk yang turut berjuang dalam pemberantasan buta huruf di Papua. Terlebih yang ada di Pedalaman Papua Selatan.

Diana termasuk Guru Penggerak Daerah Terpencil di Mappi sejak 2018. Bupati Mappi di periode 2017-2022 Kristosimus Yohanes Agawemu, yang menginisiasi program itu. Di dalam program tersebut, Kabupaten Mappi pun menggandeng Gugus Tugas Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sebanyak 500-an guru yang dikontrak untuk bekerja jadi guru di Mappi dalam program itu selama dua tahun. Diana berasal dari Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak di awal program, dia bertugas di Kampung Kaibusene, Distrik Haju, Mappi.

Diana mengungkapkan, dalam sepekan anak didiknya secara bergilir bisa menggunakan komputer tablet empat kali. Dari situ mereka belajar mengetik dan mengeksplorasi ilmu tentang fungsi-fungsi lain dari komputer tablet.

Baca juga: Kita Jadi Pintar Karena Guru

Bupati Periode Sebelumnya Sangat Peduli

Bergantian karena hanya tersedia tiga unit. Meski sangat terbatas, Diana bersyukur bisa melihat anak didiknya mulai mengenal perkembangan teknologi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

’’Kami mendapatkan bantuan berupa tablet listrik, dan jaringan juga mulai tersedia dari tenaga surya,’’ ungkap Diana.

Pandemi Covid-19 sempat membuat upaya guru-guru seperti Diana ini terganggu. Tidak ada kegiatan belajar-mengajar selama Covid-19. Karena itulah para siswa sekalipun saat sebelum pandemi sudah bisa membaca, jadi tidak bisa membaca. Padahal telah duduk di bangku kelas VI SD.

Berdasarkan data Dapodik SDN Atti per 2024, jumlah siswa yag terdaftar bisa mencapai 60-an. Akan tetapi, yang aktif hanya 58-an siswa. Banyak dari siswa yang memilih untuk ikut keluarganya ke hutan mencari makan dan tinggal beberapa hari di bifak.

Dibantu dua koleganya sesama guru penggerak di kampung itu, Fransiska Erlyansi Bere (Icha) dan Oktovianus Halla (Vian), Diana mengajarkan pelajaran berhitung dasar untuk anak-anak pedalaman Papua.

Sesekali mereka juga menyisipkan pendidikan nasionalisme kepada anak didiknya. Tapi mereka tetap berhati-hati, karena banyak simpatisan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di daerah tersebut. Bahkan, mereka juga tidak mengibarkan bendera Merah Putih.

Sejak lengsernya Bupati Kristosimus, mereka bahkan tidak lagi mendapat pasokan buku dan alat tulis, maupun sarana prasarana pendukung kegiatan belajar-mengajar. Apabila ingin membeli alat tulis sendiri, guru ataupun wali murid harus pergi ke kota Kepi.

Baca juga: Guru Harus Bagus Karena Warna Bangsa = Warna Guru

Harus Jalan Kaki Enam Jam

Dari Mappi, jaraknya bisa ditempuh selama enam jam dengan berjalan kaki, disambung dengan naik ketinting (perahu kecil), dan perjalanan dengan mobil. Cukup mahal bagi penduduk Mappi yang mayoritas tidak berpenghasilan.

Agar proses kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan Diana berinisiasi membuka donasi lewat media sosialnya. Baik di Instagram atau Facebook. Dalam donasinya itu, bukanlah uang yang dia harapkan.

Baca juga: Kisah Riska, Kuliah Sambil Usaha Jastip Naik Gunung

Melainkan dalam bentuk barang seperti buku, alat tulis, dan pakaian layak pakai. Semua donasi itu dikirimkan ke kosan Diana di Kepi. Sewa kosan tersebut per bulannya sekitar Rp 500 ribu.

Syukurlah Donasi Via TikTok Mulai Masuk Untuk Sarana Belajar

’’Pak Guru Vian juga sering live di TikTok untuk menggambarkan kondisi sekolah kami. Sehingga, kami bisa mendapatkan banyak bantuan,’’ ungkap Diana.

Sebagai guru penggerak gaji Diana dan koleganya Rp 4 juta per bulan. Seharusnya untuk kebutuhan sekolah sudah ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Nyatanya, dana itu tidak pernah mengalir ke sekolah. Melainkan ke kantong Kepala Sekolah.

Untungnya, setahun setelah Diana dan koleganya mengabdi, sudah 24 anak didiknya yang meneruskan jenjang studinya ke SMP di Kepi. Tahun lalu, 14 anak didiknya yang beralih jenjang ke SMP.

Badan Musyawarah Kampung Atti Willem Pasim bersyukur atas kehadiran Diana dan koleganya. Menurutnya anak-anak kampungnya dari usia paling kecil saat ini sudah bisa membaca.

Baca juga: Annisa Bikin Iri, Prestasi Segudang, Raih Beasiswa S2 Harvard University

Perusahaan Besar Mulai Beri Sumbangan

Sebagai rasa syukur atas kehadiran guru-guru seperti Diana itu, warga di Kampung Atti juga sering mengirimkan bahan makanan ke mess guru. Mulai singkong, daun singkong, ulat sagu, daging ular, dan daging buaya.

Diana mengakui banyak kemajuan pesat di SDN Atti setelah terpilih jadi pemenang pada program Satu Indonesia Awards yang diadakan Astra. Kondisi kelas kini jadi lebih layak. Begitu pula sumbangan buku dan alat tulis yang tidak berhenti berdatangan. (YMP)

Baca juga: Kebutuhan Pokok Manusia Apa Saja | Pendidikan Juga Termasuk

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *