Wasy-syamsi wa dluḫâhâ… dan Matahari Prancis yang Ditunda Nyalanya

 Wasy-syamsi wa dluḫâhâ… dan Matahari Prancis yang Ditunda Nyalanya

Proyek internasional reaktor fusi International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER) atau matahari buatan di Prancis. (foto: ap)

SURABAYA-BQ | Wasy-syamsi wa dluḫâhâ.  Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari (QS Asy-Syams: 1).

Huwal-lażī ja‘alasy-syamsa ḍiyā’aw wal-qamara nūraw… Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. (QS  Yunus: 5).

Dan,masih banyak lagi ayat yang menyebut matahari dalam Al-Qur’an. Mengutip guru besar STAIN Bengkalis Prof Samsul Nizar dalam kolomnya, “Matahari, Bulan, dan Awan”, matahari disebutkan dalam 24 ayat.

Tentang ayat “Matahari bersinar dan bulan bercahaya”, laman quran.kemenag.go.id memberi catatan: “Allah Swt menjadikan matahari dan bulan berbeda sifat fisisnya. Matahari bersinar karena memancarkan cahayanya dari proses reaksi nuklir di dalam intinya. Sedangkan bulan bercahaya karena memantulkan cahaya matahari.”

Matahari banyak memberikan manfaat bagi kehidupan. Cahayanya saat terbit begitu indah. Berpendar jingga kemerahan di sela-sela dedaunan, menyebarkan semangat kehidupan. Ketika terbenam tak kalah eksotik. Cahaya kuning, jingga, dan merahnya yang sayu membagikan kedamaian.

Fenomena alam itu pun dijadikan objek wisata yang menarik. Ada spot sunrise di Penanjakan, Gunung Bromo, Jawa Timur, yang tersohor keindahannya. Demikian juga wisata spot sunset atau matahari tenggelam bermunculan di mana-mana.

Nabi Idris Minta Matahari ‘Adem’

Namun demikian, matahari kadang-kadang juga mematikan dengan suhu panasnya. Sampai-sampai dalam suatu riwayat, ada nabi yang meminta kepada Allah mengurangi terik matahari.

Dalam Tafsir Qurtubi 11/188, Nabi Idris as pernah berdoa agar matahari dikurangi panasnya. Juga dilambatkan peredarannya. Sehari itu saja. Menurut Ibnu Abbas RA, Ka’ab, dan ulama lainnya, doa itu dipanjatkan ketika Nabi Idris bepergian dan kemalaman.

“Ya Tuhanku aku berjalan seharian, maka bagaimana seandainya seseorang mengatur perjalanan matahari selama 500 tahun menjadi sehari saja. Ya Allah Tuhanku, ringankanlah berat matahari daripadanya (yang dimaksud adalah malaikat yang mengatur peredaran matahari). Ya Allah Tuhanku, lambatkanlah peredaran matahari dan aku dapat menahan terik panasnya matahari.”

Doa Nabi Idris dikabulkan. Malaikat tak tahu penyebab perubahan matahari. Bertanyalah kepada Sang Khaliq. Allah pun mengabarkan tentang Nabi Idris yang berdoa memohon agar peredaran matahari diperlambat dan panasnya tidak terlalu terik.

Soal matahari yang terlalu terik, hal itu juga menjadi masalah bagi jemaah haji baru-baru ini. Dikabarkan 1.300 jemaah haji meninggal saat sedang beribadah. Kena heat stroke. Sengatan panas. Suhu di sana mencapai 51 derajat Celcius. Beberapa jemaah meninggal di jalan dalam foto yang beredar di media arus utama maupun media sosial.

Meski demikian, Allah Swt mengendalikan matahari agar lebih banyak memberikan manfaat daripada mudarat. Dengan cahaya matahari, terjadi fotosintesis. Sebuah proses pengubahan senyawa air (H2O) dan karbon dioksida (CO2). Cahaya matahari yang terserap klorofil (zat hijau daun) membantu proses itu. Menghasilkan senyawa glukosa (C6H12O6).

Glukosa langsung digunakan tetumbuhan untuk bertumbuh. Juga disimpan dalam bentuk makanan alias buah. Proses fotosintesis juga menghasilkan oksigen (O2). Buah dan oksigen dibutuhkan manusia dan hewan. Subhanallah. Tradisi Allah alias sunnatullah. Oksigen bahkan gratis untuk manusia sepanjang umurnya, namun sering lupa disyukuri. “Astaghfirullahal’adzim”.

Matahari Buatan

Energi matahari demikian bermanfaat dan ramah lingkungan. Hal itu membuat  negara-negara maju terobsesi. Mereka beramai-ramai bikin matahari buatan. Tujuannya mendapat sumber energi bersih yang ramah lingkungan. Tidak mengandalkan energi karbon yang menimbulkan polusi.

Ada tujuh negara yang bikin matahari buatan.  Di Asia ada Jepang, China, dan Korea Selatan. Di Eropa ada Prancis dan Inggris. Dua lainnya, Amerika dan India. Kita bahas yang dua saja.

Pertama, matahari buatan China. Namanya,  Ekperimen Superkonduktor Tokamak (EAST). Lebih dari 10 ribu peneliti ilmiah China dan asing bekerja sama di proyek ini. Proyek ini ada di Institut Fisika Plasma, Akademi Ilmu Pengetahuan China (ASIPP) di Hefei, China. Menciptakan fusi nuklir seperti matahari.

Sudah diuji coba beberapa kali. Pada November 2018, EAST menghasilkan suhu 100 juta derajat Celcius di plasma (gas panas) intinya. Hampir tujuh kali suhu inti matahari asli yang diyakini 15 juta derajat Celcius.

Dikembangkan lagi.  Mei 2021, mampu beroperasi pada suhu plasma 120 juta derajat Celcius dan dipertahankan 101 detik. Digarap terus. Januari 2022, hasil uci coba: bisa beroperasi pada suhu 70 juta derajat Celcius selama 1.056 detik atau 17 menit.

EAST melibatkan ilmuwan 35 negara. Sudah melakukan lebih dari 120.000 percobaan untuk mencapai tonggak sejarah terbaru. Pada Agustus 2023, EAST mewujudkan mode operasi tingkat tinggi dengan arus plasma mencapai sejuta Ampere. Menegaskan posisi China sebagai yang terdepan dalam teknologi matahari buatan.

Matahari Buatan Prancis

Pesaing EAST adalah matahari buatan Prancis. Namanya International Fusion Energy Project (ITER). Prinsip kerja matahari buatan sama: reaktor fusi, menggunakan alat tokamak.

Tokamak adalah akronim bahasa Rusia yang berarti “ruang toroidal (cincin/donat) dengan kumparan magnet”. Alat ini diciptakan fisikawan Uni Soviet alias Rusia, Igor Yevgenyevich Tamm dan Andrei Sakharov, pada tahun 1958.

Cara kerjanya, menggabungkan atom hidrogen untuk membuat helium di bawah tekanan dan suhu yang sangat tinggi. Menghasilkan cahaya dan panas. Menghsilkan sejumlah besar energi tanpa menghasilkan gas rumah kaca atau limbah radioaktif yang bertahan lama.

Kabar terbaru, ITER masih harus menunggu 15 tahun lagi untuk menyala. Awalnya dijadwalkan memulai uji coba penuh pertama pada 2020. Namun, mundur. Paling cepat akan mulai beroperasi 2039. Demikian kabar dari Live Science, seperti dikutip dari detikNet, hari ini.

ITER terdiri atas 19 kumparan besar. Dililitkan ke beberapa magnet toroidal (cincin/donat), ITER mengandung magnet paling kuat di dunia. Mampu menghasilkan medan magnet 280 ribu kali lebih kuat dari medan magnet yang melindungi bumi.

Biaya proyek ITER membengkak menjadi USD 22 miliar atau sekitar Rp 357,6 triliun. Dari rencana awal USD 5 miliar atau sekitar Rp 81,2 triliun dan dijadwalkan mulai beroperasi 2020.

Negara-negara maju itu memang bisa membuat matahari buatan. Namun matahari asli tak akan tertandingi. Menurut teori fisika, oleh cahaya matahari asli itulah, uap air tertarik ke angkasa menjadi awan, kemudian turun menjadi hujan. Pertanyaan awam: apakah matahari buatan nanti juga bisa? Juga apakah bisa membantu proses fotosintesis tanaman? Kita tunggu…

Sudah pasti juga, yang buatan itu mana bisa bikin sunset dan sunrise. Sebagai intermeso biar tidak tegang. Sehebat-hebat tujuh negara yang sedang bikin matahari, Indonesia masih ‘jauh lebih hebat’. Seorang musisi Ebiet G. Ade saja bisa “Menjaring Matahari”.  Monggo dinyanyikan! (mhk)

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *