Suborno, Si Jenius 12 Tahun, Memulai Kuliah S1 di NYU

 Suborno, Si Jenius 12 Tahun, Memulai Kuliah S1 di NYU

Soborno Isaac Bari, mahasiswa S1 termuda di New York University yang berusia 12 tahun. Ia bahkan mengambil double degree dan dijuluki profesor termuda. (dok. Tangkapan layar Instagram Soborno Bari)

SURABAYA – BQ | Suborno Bari, mahasiswa termuda New York University (NYU) berusia 12 tahun, mulai masuk kuliah Agustus ini. Suborno menerima beasiswa penuh Double Degree (gelar ganda) di NYU untuk jurusan Matematika dan Kimia. Karena kejeniusannya bocah ini kemudian dikenal dengan Subono ‘Isaac’ Bari, merujuk Isaac Newton.

“Rasanya sangat menyenangkan,” ujar Suborno dilansir dari The Washington Post. Dia kuliah di NYU setelah lulus dari Malverne Union Free School District (setingkat SMA), New York, Amerika Serikat. Pendidikan menengah atas itu pun dia tempuh hanya 2 tahun.

Tawaran dari NYU datang pada Maret 2024 lalu saat Suborno masih berusia 11 tahun. Ia akan mulai kuliah sebagai mahasiswa untuk meraih gelar sarjana di dua bidang: matematika dan fisika.

“Saya merasa siap untuk kuliah, tidak hanya secara akademis tetapi juga secara sosial,” ujar Suborno penuh semangat.

Di usianya yang masih belia, Suborno telah berpikir soal rencana-rencana luar biasa untuk masa depannya. Ia berkeinginan menjadi prosesor di bidang fisika dan matematika.

“Saya masih punya banyak waktu luang yang saya inginkan. Saya tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk duduk-duduk saja,” tuturnya.

Ayah Tidak Menyangka

Rashidul Bari pun masih tak menyangka putranya itu bisa menyelesaikan pendidikan menengah atas di usia 12 tahun. Suborno mulai mengucapkan kata pertamanya di usia enam bulan. Pada usia 2 tahun, ia sudah bisa menghafal tabel periodik.

Keunggulan akademisnya diakui sangat didukung oleh keluarga. Kedua orang tuanya sama-sama berprofesi sebagai pengajar sehingga membuat dirinya hobi belajar.

Semasa taman kanak-kanak dan sekolah dasar, Suborno senang membaca buku teks universitas milik sang ayah. Ayah Suborno adalah kandidat doktor di Universitas Columbia dan sekarang mengajar fisika di sekolah menengah.

Begitu pun ibunya, adalah guru sekolah dasar yang merupakan lulusan program pendidikan usia dini di City College of New York. Kala usia 2 tahun, Suborno sempat diwawancarai wakil rektor dari universitas almamater ibunya tersebut.

Begitu pun sang kakak, Refath Bari sangat menggemari sains seperti dirinya. Kakaknya tersebut baru saja lulus sarjana sains di City College of New York di usia 21 tahun.

Suborno Isaac Bari saat berusia 9 tahun bersama keluarganya (sumber: Kfanhub)

Usia 2 Tahun Pecahkan Rumus Tingkat Mahasiswa

Soborno yang lahir di New York pada 9 April 2012 lalu, mulai menunjukkan kecerdasannya pada usia 2 tahun. Saat itu ia mulai mengenal angka dan berhitung secara sederhana. Bahkan ia sudah paham dan hafal tabel periodik di usia dini.

Seiring berjalan waktu, ia selalu mengkritisi konsep matematika, fisika, sampai kimia. Bahkan konsep rumus yang seharusnya dipahami siswa SMA atau mahasiswa.

Saat ia menginjak usia tujuh tahun, ia diberi gelar “God of Mathematics” atau Si Dewa Matematika oleh kaum akademisi. Ayah dan ibunya mulai mencari tahu perkembangan yang tidak biasa pada putranya. Sampai saat Soborno sekolah, ia sempat lompat kelas atau akselerasi dari kelas 4 ke kelas 8 dan dari kelas 9 ke kelas 12 dengan durasi sekolah yang lebih singkat.

Menikmati Berteman Anak SD atau Tingkat SMA

Soborno diketahui lulus studi setara SMA di Malverne Union Free School dan lulus hanya dalam waktu 2 tahun dengan IPK 98 pada skala 100 poin ketika dia lulus SMA.

Saat itu, para gurunya sudah sangat sadar bahwa Suborno adalah siswa jenius. Selain di bidang eksak, Suborno juga sangat unggul dalam membaca.

“Kami segera menyadari bahwa ia mampu menangani lebih banyak hal daripada anak-anak pada umumnya,” kata Rebecca Gottesman, direktur konseling K-12 di Malverne Union Free School District.

Selama bersekolah di sana, Suborno diberikan kesempatan belajar di tingkat kelas lebih tinggi pada pagi hari. Lalu, sore hari ia kembali ke kelas dasar agar bisa bermain dengan anak seusianya.

“Saya benar-benar merasa betah, baik saat bersama anak-anak berusia 10 dan 11 tahun, maupun saat saya di sekolah menengah atas. Itu tidak terlalu penting bagi saya,” ungkap Suborno.

Lalu Suborno mengikuti perkuliahan non-degree di beberapa universitas. Seperti New York University, Stony Brook University, City University of New York, dan Brooklyn College.

“Dia bersikeras mengikuti kursus-kursus. Saya mengantarnya dari satu kampus ke kampus lainnya,” kata ayahnya, Rashidul Bari.

Suborno saat berusia 9 tahun (sumber: topcareer.id)

Pernah Diundang Presiden Obama

Ia sempat diundang oleh Ruia College of Mumbai University, India untuk berkuliah. Pencapaiannya inilah yang diakui sebagai profesor termuda di dunia. Soborno sudah berkali-kali mendapat penghargaan. Misalnya, pada usia empat tahun ia menerima surat pengakuan dari Presiden Barack Obama atas prestasinya dalam bidang matematika dan sains.

Lalu mendapat penghargaan ‘Global Child Prodigy Award’ dari Pemenang Nobel Kailash Satyarthi. Lalu di usia 6 tahun, ia telah menerima pengakuan dari Universitas Harvard. Atas kemampuannya memecahkan masalah dan diterima di program berbakat dan berprestasi di New York City.

Bahkan, ia merupakan salah satu dari 100 anak ajaib terbaik di dunia versi Global Child Prodigy Award Tahun 2020. Soborno juga pernah menulis buku berjudul “The Love” pada tahun 2019 yang berisi pandangannya akan cinta damai dan anti-terorisme.

Walaupun menyukai matematika, kimia, dan fisika, ia sendiri juga mahir melukis, debat, hingga bermain piano. Rencananya, setelah mendapat beasiswa di New York University, ia bisa memperoleh gelar Sarjana pada usia 14 tahun dan Doktor pada usia 18 tahun. hkm

Baca juga: Korsel Punya Warga Negara dengan IQ Tertinggi Dunia

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *