Mahasiswa FKG Unair Juara 1 Kompetisi Riset Internasional
Penyerahan hadiah pada 15th International Dentistry Scientific Festival (DSE) di Universitas Brawijaya. (dok. Unair/ist)
SURABAYA – BQ | Dua mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (Unair) meraih prestasi di 15th International Dentistry Scientific Festival (Festival Ilmiah Kedokteran Gigi Internasional). Mohammad Iqbal dan Sherina Fatwa Imanu, menjadi juara 1 dalam kategori Research Article(artikel penelitian). Acara bergengsi ini diselenggarakan oleh BEM FKG Universitas Brawijaya (UB).
Iqbal mengungkapkan, mereka mengusung inovasi bertajuk Antibacterial Activity of Secang (Caesalpinia sappan) In Inhibiting Vital Structure of Enterococcus faecalis: In Silico. {Aktivitas Antibakteri Secang (Caesalpinia Sappan) dalam Menghambat Struktur Vital Enterococcus Faecalis: in silico).
(Enterococcus faecalis pada dasarnya adalah bakteri yang habitatnya di gastrointestinal dan rongga mulut. Dapat menjadi mikroorganisme patogen penyebab infeksi pada luka, bakteremia, endokarditis dan meningitis.)
(Sedangkan in silico merupakan salah satu pendekatan penelitian eksperimental selain in vivo (dalam sebuah kehidupan) dan in vitro (dalam sebuah objek kaca). In silico berasal dari bahasa Yunani yang berarti melalui simulasi komputer. In silico merupakan pendekatan relatif baru dalam penelitian, tapi mulai digunakan secara luas dalam bidang kedokteran dan kesehatan.)
Cairan Kayu Secang untuk Irigasi Endodontik
Kembal ke tim FKG Unair, dalam penelitiannya, mereka menggagas ide cairan irigasi endodontik (jaringan pulpa lunak dalam gigi) dari bahan alami ekstrak kayu secang. Mereka meneliti senyawa predominan ekstrak kayu secang yang memiliki potensi antibakteri yang baik terhadap enterococcus faecalis.
Menurut dia, senyawa aktif secang diprediksi mampu menghambat struktur vital bakteri tersebut. “Kami menggagas inovasi cairan irigasi saluran akar dan bahan Endoseal berbasis bahan alam ekstrak kayu secang. Inovasi ini dapat digunakan oleh dokter gigi maupun spesialis dalam merawat saluran akar,” ujar Iqbal dikutip dari laman Unair, Kamis (2/8/2024).
“Inovasi cairan irigasi sangat diperlukan. Saat ini, cairan irigasi masih inadekuat (tidak memadai) dalam menghambat bakteri Enterococcus faecalis. Bakteri ini dikenal berperan penting dalam kegagalan perawatan saluran akar dan infeksi primer saluran akar,” imbuh Iqbal.

Perjalanan Kompetisi Tidak Mudah
Perjalanan mereka dalam kompetisi ini tidak mudah. Dimulai dari semester genap, mereka sempat tidak berharap lebih karena persiapan yang kurang optimal. Namun, setelah dinyatakan sebagai finalis, mereka termotivasi untuk memaksimalkan penyusunan full paper dan persiapan presentasi secara luring.
“Saya sedang sibuk menjalani masa Koas di FKG dan dalam masa ujian CBT dan OSCE. Sementara Sherina sedang libur semester di luar kota. Walaupun demikian, kami berusaha memberikan performa maksimal saat grand final dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan juri,” ulas Iqbal.
(Koas gigi adalah mahasiswa pendidikan dokter gigi yang sudah menyelesaikan proses belajar secara teori. Koas gigi juga sudah disumpah sebelum bisa memberikan pelayanan pada pasien. Sebelum bisa praktik layaknya dokter gigi, koas gigi perlu menjalani latihan dengan diawasi oleh pembimbing.)
Meskipun sempat mengalami tantangan, mengikuti acara internasional ini merupakan pengalaman berharga bagi mereka. “Acara ini sangat menarik dan menjadi pengalaman yang berharga. Disini kami tidak hanya berkompetisi, tetapi juga dapat bertukar ide dengan peserta lain dari berbagai negara,” kata Iqbal. .
Dengan mengikuti kompetisi itu, Iqbal berharap risetnya dapat dikembangkan lebih lanjut dalam bidang medis. “Kami berharap riset ini dapat dikembangkan secara in vitro, in vivo, maupun uji klinis. Kami juga ingin riset ini dapat dipatenkan dan diproduksi secara komersial menjadi bahan irigasi dan endoseal,” harapnya. hkm
Baca juga: Muhana, Dokter Fresh Graduate UNS Punya 15 Publikasi Terindeks Scopus

