Thalia Raih IPK 3.99, Terbaik di Yudisium II 2024 FITK UIN Malang
Aristhalia Hevi Febrianti atau akrab dipanggil Thalia saat yudisium (dok. UIN Malang)
SURABAYA – BQ | Aristhalia Hevi Febrianti mencetak sejarah dalam Yudisium Periode II 2024, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang). Dia menyandang predikat Cumlaude dengan raihan IPK 3.99 (8 semester). Thalia, panggilannya, adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah angkatan 2020.
Thalia mengaku bercita-cita jadi dosen sehingga belajar giat sejak kecil. “Berawal hobi belajar dengan giat. Saya bercita-cita menjadi dosen. Karena itu selalu meningkatkan prestasi akademik agar cita-cita saya terwujud,” katanya dilansir dari laman UIN Maliki Malng, Kamis (1/8/2024).
Thalia mengingat sejak SD hingga SMA mendapat beasiswa karena meraih peringkat teratas di kelasnya. Selulus SMA, dia pun, diterima di UIN Malang melalui jalur SPAN-PTKIN. Yaitu Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. (Semacam Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) di kampus umum, red).
Seleksi itu berbasis nilai rapor dan prestasi, tanpa dipungut uang pendaftaran. “Kedua orang tua saya sangat bangga. Karena saya orang pertama di keluarga yang bisa kuliah lewat jalur tanpa tes itu,” ceritanya sambil tersenyum.
Mahasiswi berusia 22 tahun itu pun membocorkan pengalamannya yang mencoba aktif bertanya dan menjawab saat diskusi dan presentasi. Sebab, menurutnya, seseorang harus berani berpendapat entah itu benar atau salah. Jangan pernah takut untuk salah. Hal itu ia lakukan agar suasana kelas tidak pasif. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah adab kepada dosen dan pengumpulan tugas tepat waktu.
Kiat Meraih dan Mempertahankan IP Tinggi
Thalia menceritakan kiatnya untuk mendapatkan Indeks Prestasi (P) tinggi tiap semester. Dia belajar secara konsisten, disiplin, dan komitmen untuk menjadi diri sendiri yang terbaik. Dia pun rutin belajar sebelum kuliah dan enggan menunda mengerjakan tugas.
Terakhir, ia berharap IPK tertinggi bukanlah nilai angka saja tapi dapat dijadikan sebagai value dan sikap untuk mengembangkan diri. IPK tinggi mencerminkan ilmu yang kita dapat harus diamalkan nantinya di dunia kerja.
“Pengamalan IPK tinggi bukan hanya tentang hasil akhir nilai yang tinggi. Tetapi juga tentang proses pembelajaran yang konsisten, disiplin, dan komitmen untuk menjadi yang terbaik bagi diri sendiri dalam konteks akademik,” tutupnya. hkm
Baca juga: Nurul Lulus S2 Farmasi UGM dengan IPK 4.00, Ini Kiat-kiatnya!

