Kerajaan Islam Pertama Nusantara, Pasai atau Perlak? (2-Habis)

 Kerajaan Islam Pertama Nusantara, Pasai atau Perlak? (2-Habis)

Makam Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah, pendiri Kerajaan Perlak.(sumber: Steemit)

SURABAYA – BQ | Kesultanan Peureulak (Perlak) berdiri 1 Muharam 225 H (840 M). Sedangkan Kesultanan Samudera Pasai baru 1267 M didirikan oleh Meurah Silu. Sehingga, Perlak lebih tua. Pendiri Kesultanan Perlak adalah keturunan Nabi Muhammad Saw. Berikut sejarahnya.

Masyarakat di Aceh adalah masyarakat yang mula-mula menerima Islam di Nusantara. Sedangan Peureulak (Perlak) serta Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara. Demikian menurut sejarawan Inggris Thomas W Arnold (2006) dalam bukunya, The Preaching of Islam: A History of the Propagation of Muslim Faith.

Ahli sejarah Ali Hasjmy (1978) dalam “Sejarah Pemerintahan Selama Berdiri Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh”  mengatakan, Islam sudah masuk Perlak abad ke-1 Hijriyah atau sekitar abad ke-8 Masehi. Disebutkan, awal Islam di Perlak sudah mulai sejak masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Khaththab.

Ketika itu, Parsi atau Persia (sekarang Iran) bisa ditaklukkan dan rakyatnya diislamkan. Orang-orang Arab dan Parsi yang sudah berada di Perlak, ketika itu juga ikut memeluk Islam.

Ketika terjadi Perang Shiffin (26 Juli 657 M – 28 Juli 657 M) antara pihak Ali Ibn Abi Thalib dengan Muawiyah ibn Abi Shufyan, banyak pengikut Ali (disebut ‘Alawiyin) lari ke Asia Tenggara. Ada yang  melarikan diri ke Nusantara sampai ke negeri Perlak. Yaitu ‘Ali ibn Muhammad ibn Ja‘far Shâdiq ibn Muhammad al-Bâqir ibn Zainal ‘Âbidin ibn Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thâlib.

Kedatangannya pun disambut oleh Maharaja Syahir Nuwi dan rakyat Perlak. Karena ia berasal dari dua keturunan bangsawan terhormat, yaitu Ali ibn Abi Thâlib dan Fâthimah binti Rasulullah. Maharaja Syahir Nuwi menikahkannya dengan adik kandungnya, Puteri Makhdum Tansyuri.

Perkawinan bangsawan Quraisy dengan bangsawan Perlak ini dianugerahi seorang putera yang diberi nama ‘Abd al-‘Azîz. Setelah itu, ‘Abd al-‘Aziz dikawinkan pula dengan Puteri Meurah Makhdum Khudawi atau Puteri Perlak.  

Rombongan Nakhoda Khalifah Tiba di Perlak

Disusul pada 173 H/790 M, Khalifah Harun al-Rasyid, Khalifah dari Bani ‘Abbasiyah, mengirim satu armada dakwah berjumlah 100 orang dengan tujuan ke Samudera, Aceh Timur. Rombongan ini terdiri dari bangsa Arab, Parsi, dan India ke Pelabuhan Perlak.  

Namun rombongan yang dipanggil dengan Nakhoda Khalifah ini singgah di Barus dan beberapa daerah lainnya terlebih dulu. Barus sendiri saat itu terkenal dengan pelabuhan dagangnya. Di daerah-daerah yang disinggahi rombongan itu berdakwah dan mengislamkan warga lokal.

Nakhoda Khalifah melanjutkan ke Perlak dan disambut baik oleh Maharaja Syahir Nuwi. Kehadiran rombongan ini kian mengokohkan Islam di Perlak. Dari Perlak, rombongan ini kemudian lanjut berdakwah ke Samudera.

Ilustrasi Kerajaan Perlak yang terkenal dengan perniagaannya. Di sana terdapat Pelabuhan Khalifah sebagai pengabadian rombongan Nakhoda Khalifah utusan Khalifah Harun al-Rasyid (sumber: Steemit)

Berdirinya Kesultanan Perlak dan Kejayaannya

Sementara itu, ‘Abd al-‘Azîz, , putra ‘Ali ibn Muhammad ibn Ja‘far Shâdiq dengan Puteri Makhdum Tansyuri, tadi mendirikan Kesultanan Perlak. Dia menjadi raja pertama yang dikenal dengan Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah.

Merujuk pada buku Sejarah Peradaban Islam Lengkap oleh Rizem Aizid, Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah dilantik menjadi raja pada 1 Muharram 225 H. Dia memerintah selama 24 tahun (225-249 H atau 840-864 M). 

Perlak mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin II. Sang Sultan berkuasa selama 37 tahun antara 1230-1267 M. Perlak mengalami kemajuan pesat,  di bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah.

Dalam Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia, Kerajaan Perlak terkenal sebagai penghasil kayu Perlak, kayu bermutu tinggi untuk bahan pembuatan kapal. Hasil alamnya ini yang menarik para pedagang dari Gujarat, Arab, dan India untuk datang. Hal itu membuat Kerajaan Perlak berkembang menjadi bandar niaga yang maju.

Baca juga: Kerajaan Islam Pertama Nusantara, Pasai atau Perlak? (Bagian 1)

Pecah Jadi Kesulatanan Syiah vs Sunni, Bersatu Lagi

Kondisi tersebut mendorong perkawinan antara para saudagar muslim dengan penduduk setempat, yang akhirnya membuat Perlak menjadi pusat penyebaran Islam di Nusantara. Kian banyak orang Arab dari kalangan Syiah ataupun Sunni yang datang untuk berniaga dan nikah dengan warga lokal.

Kedua aliran ini bahkan terus menyebarkan pengaruhnya hingga timbul perlawanan terbuka. Yakni pada masa pemerintahan Sultan Sayid Maulana Ali Mughayat Syah (915-918 M).

Demi stabilitas Perlak, seorang Syiah diangkat menjadi perdana menteri. Namun, hal itu tidak dapat meredam perlawanan kaum Syiah. Sampai akhirnya terjadi perang saudara pada masa sultan ketujuh, yakni Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Johan Berdaulat (956 – 983 M).

Perang ini berlarut-larut selama 4 tahun dan berakhir setelah dibuat Perjanjian Alue Meuh pada 10 Muharram 353 H. Perjanjian itu mengatur pembagian Perlak menjadi dua. Yaitu Perlak Baroh, wilayah pesisir yang diserahkan kepada Dinasti Aziziyah (Syiah), dan Perlak Tunong, wilayah pedalaman yang diserahkan kepada Dinasti Makhdum (Sunni).

Kendati demikian, Islam Syiah tidak berkembang karena Perlak Baroh dihancurkan oleh Kedatuan (Kerajaan) Sriwijaya pada 986 M. Raja Peureulak Baroh, Sultan Alaiddin Syad Maulana Mahmud Syah, gugur dalam perang melawan Sriwijaya.

Kerajaan Perlak Tunong yang dikuasai oleh kaum Sunni selamat karena Sriwijaya terpaksa menarik mundur pasukannya akibat ancaman dari Dharma Bangsa dan Jawa. Islam Sunni terus berkembang bahkan berhasil mengislamkan Raja Lingga, Adi Genali, melalui utusannya bernama Syekh Sirajuddin.

Puing-puing Kerajaan Perlak di Aceh Timur yang merupakan Kesultanan Islam pertama di Indonesia (istimewa).

Kemunduran setelah Eksis 450 Tahun

Setelah perdamaian antara kaum Syiah dan Sunni, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga 1006 M. Sultan melakukan politik persahabatan dengan negeri-negeri tetangga guna memperkuat menghadapi serangan dari Kerajaan Sriwijaya.

Strateginya adalah  menikahkan kedua putrinya dengan raja-raja dari kerajaan tetangga. Putri Ratna Kemala menikah dengan Raja Malaka ,yaitu Parameswara. Sedangkan Putri Ganggang Sari dinikahkan dengan Raja Al Malik Al-Saleh dari Samudera Pasai.

Usai raja ke-18 Sultan Mahmud Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan wafat, kondisi Kerajaan Perlak mulai tidak stabil. Kesultanan mengalami kemunduran. Para saudagar meninggalkan Perlak secara perlahan.

Kemudian Kerajaan Perlak digabung jadi satu dengan Kerajaan Samudra Pasai oleh putra Sultan Malik Al-Saleh dari Pasai.  Yaitu, Sultan Muhammad Malikul Zahir, pada tahun 1292 M. Kerajaan Perlak yang eksis selama 450 tahun sejak berdiri pada 1 Muharram 225 H (840 M) ini akhirnya tertelan sejarah. Masa eksisnya lebih lama dari Samudera Pasai yang 257 tahun (1297-1524 M).

18 Sultan yang Memerintah Perlak

Ada pendapat bahwa Perlak sejak berdiri sampai bergabung dengan Samudra Pasai, diperintah 18 sultan sampai 20 sultan. Namun dalam buku-buku sejarah, populer ada 18 sultan, yang  dapat dikelompokkan dalam dua dinasti. Yaitu Dinasti Sayid Maulana Abdul Azis Syah (Syiah) dan Dinasti Johan Berdaulat (Sunni). Berikut daftar sultan yang pernah memerintah Kerajaan Perlak:

  1. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah (840 – 864 M)
  2. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Rahim Syah (864 – 888 M)
  3. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abbas Syah (888 – 913 M)
  4. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughayat Syah (915 – 918 M)
  5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Johan Berdaulat (928 – 932 M)
  6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Johan Berdaulat (932 – 956 M)
  7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Johan Berdaulat (956 – 983 M)
  8. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Johan Berdaulat (986 – 1023 M)
  9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Johan Berdaulat (1023 – 1059 M)
  10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Johan Berdaulat (1059 – 1078 M)
  11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Johan Berdaulat (1078 – 1109 M)
  12. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Johan Berdaulat (1109 – 1135 M)
  13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Johan Berdaulat (1135 – 1160 M)
  14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Johan Berdaulat (1160 – 1173 M)
  15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Johan Berdaulat (1173 – 1200 M)
  16. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Johan Berdaulat (1200 – 1230 M)
  17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (1230– 1267 M)
  18. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292 M). hkm

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *