Ciptakan Probiotik Ternak ‘Ajaib’, Profesor UMM Juara Nasional
Prof Dr Ir Indah Prihartini MP IPU (sumber: UMM).
SURABAYA – BQ | Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Ir Indah Prihartini MP IPU juara nasional berkat inovasi Probiotik Ternak Plus karyanya. Indah, panggilannya, meraih penghargaan IndoLivestock Research And Innovation Award 2024 kategori Sapi Perah, di Jakarta Convention Center, 17 Juli 2024 lalu.
Karya guru besar Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM itu menyisihkan ratusan produk dalam ajang tersebut. Bukan tanpa alasaan, produknya karyanya itu sudah dirasakan manfaatnya oleh para peternak sapi di lebih dari 50 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Indah mengaku bahwa probiotiknya itu ia kembangkan sejak 2004. Pada awalnya probiotik itu berfokus untuk meningkatkan pencernaan pangan dan optimalisasi serapan nutrisi oleh ternak sapi. Akan tetapi, setelah digunakan lebih lanjut, terdapat berbagai manfaat lain yang muncul.
Baca juga: Ketika 2 Guru Besar Kampanye “Jangan Tulis Saya Prof!”
Manfaatnya Melampaui Ekspektasi
“Saya kan sudah lebih dari 20 tahun mengembangkan produk biofarm, salah satunya Probiotik Ternak Plus ini. Manfaatnya ternyata melampaui ekspektasi saya,” ujarnya.
Awalnya produknya itu dibuat untuk meningkatkan daya serap nutrisi pada sapi. Namun, ternyata juga dapat mengurangi residu pada susu sapi, mengendalikan kesehatan. Di sisi lain juga mengandung banyak nutrisi untuk ternak.
Bahkan, probiotiknya sangat efektif untuk penyembuhan sapi ketika terkena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Melalui pengamatannya, ia menemukan bahwa sapi potong hanya perlu waktu 3 hari. Sedangkan sapi perah membutuhkan waktu 7 hari untuk membaik.
Proses pengobatannya juga cukup mudah. Yaitu dengan menyemprotkan probiotik pada area yang terinfeksi penyakit PMK serta rutin mencekokkannya.
“Menurut saya, ini cukup ajaib, ya. Alhamdulillah juga peternak yang sudah merasakan manfaatnya. Proses penyembuhan saat wabah PMK itu sangat efektif. Apalagi untuk sapi perah yang kalau sedang sakit pasti susunya tidak bisa terproduksi. Hanya perlu waktu tujuh hari saja, PMK dan produksi susunya sudah kembali normal,” ungkapnya.
Indah berharap, seluruh perguruan tinggi mampu menciptakan produk inovatif yang dapat membantu masyarakat dalam berbagi sektor. Selain itu juga gencar memberikan edukasi terbarukan. Mengingat tidak semua lapisan masyarakat mendapatkan akses yang mudah untuk mendapatkan produk inovasi.
Sebagus apa pun karya dan produknya, kata Indah, jika masyarakat tidak tahu, maka akan sia-sia. Kalau UMM memang aktif mengabdi masyarakat. Sehingga produknya bisa dihilirisasi dan dipakai langsung oleh masyarakat.
“Bahkan ada program khusus bernama Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) yang semakin memasifkan manfaat dari UMM,” kata Indah. hkm
Baca juga: Hafal Alquran 30 Juz, Arema Ini Lulus S1 UMM Tanpa Skripsi!

