Kisah Anak Keluarga Transmigran Diterima di UGM, Gratis UKT

 Kisah Anak Keluarga Transmigran Diterima di UGM, Gratis UKT

Made Emilia Cahyati SMAN 1 Panglale, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat

SURABAYA – BQ | Sebagai anak keluarga transmigran, Made Emilia Cahyati (18), tinggal di daerah dekat wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Namun, tekadnya untuk bisa berkuliah di UGM demikian membara.

Para gurunya sampai sempat ragu dan bertanya untuk meyakinkan Emil, panggilan akrabnya.

“Emil, yakin mau ambil UGM?” tanya gurunya.

“Saya yakin Bu,” kata Emil, meski dalam hatinya penuh rasa tidak percaya diri.

Namun, Tuhan berkehendak mengabulkan keinginannya. Lulusan SMAN 1 Panglale, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat ini lolos  ke UGM. Lewat jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Emi sendiri malah tak menyangka akhirnya benar-benar diterima di UGM.  

Dia diterima di Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan. Tidak hanya lolos masuk UGM tanpa tes, Emil juga mendapat beasiswa UKT pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen alias uang kuliah gratis dari UGM.

Emil memang dari keluarga kurang mampu. Dia bersama keluarga tinggal  di Desa Tommo 1, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Desa ini berada di area kawasan transmigrasi, sekitar 84 km dari Kota Mamuju, Sulawesi Barat. Ditelusiri dari Google, jarak Desa Tommo ke Kota Yogyakarta adalah 1.672,7 km.

Jarak SMA dari Rumah, 45 Menit Naik Motor

Saat mendaftar ke UGM lewat jalur SNBP, Emil pun meyakinkan dirinya untuk memilih kuliah di Kota Pendidikan Yogyakarta itu. Alasannya, semenjak di bangku SD hingga bangku SMP dan SMA ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah favorit.

“Dari awal memang saya sudah niat mau masuk UGM karena Yogyakarta terkenal dengan pendidikannya. Dulu saja sekolah SMP saya termasuk daerah 3T. Lalu SMA saya tidak masuk daftar ranking 1.000 SMA terbaik di Indonesia, paling tidak saya bisa masuk ke kampus favorit,” kata Emil dikutip dari laman resmi UGM, Senin (22/7/2024).

Emil  bercerita jarak sekolah SMA-nya dari rumahnya ditempuh hingga 45 menit naik sepeda motor melewati area kebun sawit. “Saya bergantian dengan teman setiap tiga hari sekali gantian bawa motor, patungan bensin,” katanya.

Pernah sekail sesekali ban bocor, Emil dan temannya terpaksa datang terlambat sampai ke sekolah. Jika ban bocor di jalan, ia menunggu teman satu sekolah lainnya yang melintas untuk membantu mendorong atau ia menelpon ayahnya untuk menjemput.

Ukir Prestasi Ikut Berbagai Perlombaan

Meski tinggal di kawasan Transmigran, tidak menyulutkan langkah Emil untuk bisa mengenyam kuliah di kampus UGM. Berbagai cara ia lakukan untuk bisa masuk UGM tanpa tes dengan mengikuti berbagai perlombaan. Menurutnya tidak ada yang tidak mungkin asal kita mau berusaha.

Selama di bangku sekolah, Emil langganan juara kelas masuk rata-rata tiga besar. Ketertarikannya pada pelajaran matematika dan sastra mendorongnya mengikuti berbagai perlombaan dan sering berhasil menjadi juara.

Emil pernah mendapat juara 1 bidang matematika pada lomba Olimpiade Sains Nasional Tingkat Mauju pada April 2023 se-Sulawesi Barat. Selain itu, ia juga pernah meraih juara 1 bidang lomba menulis cerpen pada Festival Lomba Siswa Nasional (FLS2N) jenjang SMA tingkat Kabupaten Mamuju Tengah.

Di tingkat nasional, Emil juga pernah lolos lomba Utsawa Dharmagita Agama Hindu tahun 2021 yang diselenggarakan Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu Kemenag RI untuk kategori remaja. Lalu di tahun 2024 ini ia pun kembali lolos di ajang yang sama yang diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah.

Jarak Desa Tommo, tempat tinggal Emil dan keluarganya di Mamuju Tengah, ke Kota Yogyakarta tempat UGM berada, 1.672,7 km. (sumber: google)

Ayahnya Petani Kecil Sawit ‘Nyambi’ Buruh

Ayah Emil, I Kadek Somadana (44 tahun), seorang petani kecil kepala sawit. Saat tim UGM datang ke rumahnya, seperti dilaporkan di laman UGM, Kadek tampak mengenakan sepatu bot. Dengan galah bambu dengan ujung dipasang sabit, Kadek memanen buah sawit. Digantolnya pelepah sawit yang sudah tua.

Sementara istrinya, Ni Luh Ernawati (40 tahun) mendorong gerobak angkong untuk membawa buah sawit yang sudah dipanen suaminya. Sesekali ia membereskan pelepah yang jatuh tersebut untuk disusun rapi di pinggir lahan sawit yang nantinya bisa diolah menjadi pupuk kompos.

Lokasi lahan sawit seluas kurang lebih satu hektare ini jaraknya hanya 50 meter dari rumahnya. Di desa lokasi transmigran ini, hampir semua keluarga transmigran bertanam sawit. Padi tidak lagi cocok untuk ditanam di bekas rawa yang sudah mengering di sana.

Kadek mengolah lahan sawit milik ayahnya itu sendirian. Selama hampir 15 tahun ini keluarga Kadek menggantungkan penghasilan dari hasil panen kebun sawit.

Baca juga: Gigih, Anak Guru Honorer Diterima di UGM, Dapat UKT Gratis

Penghasilan Rp2 Juta untuk Hidup 7 Orang

Setiap dua minggu sekali, Kadek bisa panen sekitar 4-5 kuintal buah sawit. Untuk  satu kilogram buah sawit dijual Rp2.000 rupiah ke pengepul. “Rata-rata setiap bulan dapat sekitar 2 juta,” katanya.

Uang dari penghasilan ini, digunakan Kadek untuk menghidupi tiga orang anaknya dan kedua orang tuanya yang tinggal serumah dengannya. Sambil menunggu panen sawit, Kadek juga bekerja serabutan bila ada tetangga yang mengajaknya untuk jadi buruh harian lepas.

Ada juga tetangga yang mengajaknya untuk mengangkut hasil panen sawit atau mengolah bibit kebun sawit. Kebetulan Kadek pernah 10 tahun punya pengalaman bekerja sebagai mandor di perusahaan sawit Astra mengurusi plasma nutfah kebun kelapa sawit.

Baca juga: Keadilan Sosial Anak Petani Singkong Vs Anak Polisi

Ikut Transmigrasi untuk Ubah Kehidupan Anak Cucu

Sang kakek, Made Yarnita (69 tahun), tampak sumringah melihat sang cucu melanjutkan kuliah di kampus UGM. Meskipun ia sebenarnya tak tahu banyak soal pendidikan.

Namun, Yarnita ingat persis bagaimana tahun 1983 ia mengajak istri dan anaknya baru satu, Kadek (ayah Emil). umur 3 tahun, berangkat naik kapal dari Buleleng, Bali, merantau ke Mamuju sebagai transmigran bersama ratusan kepala keluarga lainnya.

Mendaftar sebagai transmigran, menjadi satu-satunya pilihan bagi Yarnita untuk mengubah masa depan keluarganya. Di Buleleng, kenangnya, ia tidak punya tanah untuk digarap dan sehari-hari bekerja sebagai buruh tukang kayu.

Sesampainya di Tommo, Yarnita hanya diberi rumah papan seluas  5 x 7 meter. Jalan masih berupa tanah liat, belum ada listrik dan di sekitar pekarangan masih dikelilingi hutan dan rawa. Berangsur-angsur warga transmigran menebang pohon. Lalu, mengolah lahan untuk menanam padi dan sesekali menjadi tenaga serabutan di desa lain.

Kini, bekas papan rumah tersebut masih tersimpan rapi di depan rumah anaknya.  Yarnita sengaja tidak ingin menjualnya. Dijadikan kenangan bahwa rumah itulah tanda perjuangannya untuk mengubah nasib supaya para anak dan cucunya tahu bagaimana awal kehidupan para transmigran di masa lalu. hkm

Baca juga: Bu Guru Diana Mengajar di Pedalaman Papua Selatan, Donasi Masuk Dari TikTok

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *