2 Tahun Hapus Jurusan IPA-IPS, SMA 5 Surabaya: Ini Kendalanya!

 2 Tahun Hapus Jurusan IPA-IPS, SMA 5 Surabaya: Ini Kendalanya!

SMA Negeri 5 Surabaya (foto: dok. sma 5 surabaya)

SURABAYA – BQ | Hapus jurusan IPA, IPS, dan Bahasa telah diumumkan Kemendikbud Ristek berlaku mulai tahun ajaran 2024/2025 ini di seluruh SMA. Hal itu sebagai implementasi Kurikulum Merdeka yang membebaskan siswa memilih mata pelajaran (Mapel) sesuai minat, potensi, dan aspirasi studi lanjut atau kariernya. SMA Negeri 5 Surabaya sudah dua tahun menerapkannya. Hapus jurusan IPA-IPS ternyata ada efek jeleknya.

Waka Kurikulum SMAN 5 Surabaya Ari Damari mengatakan, hapus jurusan IPA, IPS, dan Bahasa sudah diterapkan sekolahnya sejak 2022/2023 lalu. Sejak tahun itu, diterapkan Kurikulum Merdeka. Kelas X masih ada semua Mapel. Kelas XI dan XII sudah tidak ada penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Pada 2024 pelaksanannya sudah  memasuki tahun ketiga. Menurut Ari, ada kendalanya.

“Sebetulnya kendalanya dengan bebas anak itu akan milih, sak karepe dhewe (seenaknya sendiri). Itu ada efek jeleknya juga. Ke perguruan tinggi itu kan harus linier juga,” ujar Ari saat ditemui awak media di SMAN 5 Surabaya, Kamis (18/7/2024).

Karena adanya kendala itu, pihak sekolah memberikan pengarahan kepada siswa sejak kelas X sebelum menentukan mata pelajaranpilihan. Mereka diarahkan untuk benar-benar melihat minat dan bakatnya. Agar tidak asal pilih sehingga berakibat salah pilih mata pelajaran.

Dijelaskan Ari, ada kelompok-kelompok mapel. Misalnya di perguruan tinggi teknik itu dibutuhkan matematika dan fisika. “Akhirnya kami arahkan. Kami beri penjelasan bahwa kalau minat ke teknik, misalnya, arahnya harus pilih fisika dan matematika pilihan lanjut, keduanya apa, kan gitu,” jelasnya.

Siswa dan Orang Tua Beda Pilihan

Kendala lain setelah hapus jurusan IPA-IPS dan siswa bebas pilih mata pelajaran, sering ada anak dan orang tua yang beda dalam memilih mata pelajaran. Dalam kasus seperti itu, Bimbingan Konselling (BK) turun tangan membantu. Wali murid dan siswa dipanggil untuk diajak membahasnya. Agar tidak ada penyesalan pada kemudian hari dengan mapel yang telah dipilih dan dijalani.

“Kadang-kadang itu siswa ingin A tapi orang tua ingin B. Padahal, kemampuannya A. Itu di ranah BK ada penyelesaian. Kalau psikotes (mengarah) IPA tapi ngotot IPS, terus orang tuanya ngotot jurusan IPA, ternyata rapornya cenderung mapel IPS-nya yang tinggi, ini kan harus ada pertemuan. Ada itu,” urai Ari.

Tes Diagnostik dan Psikotes

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 5 Surabaya Sukirin Wikanto mengatakan, saat siswa diterima PPDB di SMAN 5, ada tes diagnostik atau psikotes. Hal itu dilakukan untuk mengetahui minat dan potensi siswa

Sukirin juga menyadari bila terkadang ada perbedaan pilihan antara anak dengan orang tua. Namun, tidak semua anak yang berbeda pilihan memiliki nilai akademik buruk pada mapel yang tidak ingin diambil.

“Kadang ada nilai IPA nya bagus tapi bisa masuk ke lainnya. Tapi orang tuanya pengen IPA dan anaknya pengen arah IPS. Kemauan anak dan orang tua kadang beda, itu menjadi kendala,” ujarnya.

Kemendikbudristek soal Hapus Jurusan IPA-IPS

Kepala Badan Standar Nasional Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo mengatakan, hapus jurusan IPA, IPS dan Bahasa di SMA itu merupakan bagian dari impelementasi Kurikulum Merdeka. Sudah diterapkan  secara bertahap sejak tahun 2021.

Anindito mengatakan saat di kelas X, semua siswa masih belajar mata pelajaran umum.  Lalu saat di kelas 11 dan 12, siswa dapat memilih mata pelajaran secara lebih leluasa sesuai minat, bakat, kemampuan dan aspirasi studi lanjut atau kariernya. Dengan tetap ada pelajaran wajib yang harus diambil.

“Di kelas XI dan XII, sekitar separuh jam pelajaran digunakan untuk mata pelajaran wajib seperti Agama, Pancasila, Bahasa Indonesia dan Sejarah. Separuh sisanya untuk mapel pilihan sesuai dengan minat, bakat dan rencana studi masing-masing murid,” katanya kepada awak media, Rabu (17/7/2024).

Baca juga: Kasek Akui Manipulasi Nilai Rapor 51 Siswa demi Diterima SMAN

Ada Pilihan Mapel Tingkat Lanjut

Anindito mencontohkan, jika seorang murid yang ingin berkuliah di program studi teknik bisa menggunakan jam pelajaran pilihan untuk mata pelajaran matematika tingkat lanjut dan fisika, tanpa harus mengambil mata pelajaran biologi.

Demikian pula sebaliknya, lanjut Nino. Bila seorang murid yang ingin berkuliah di kedokteran bisa menggunakan jam pelajaran pilihan untuk mapel biologi dan kimia. Tanpa harus mengambil mapel matematika tingkat lanjut.

“Dengan demikian, murid bisa lebih fokus untuk membangun basis pengetahuan yang relevan untuk minat dan rencana studi lanjutnya,” ujar Nino, panggilan Anindito.

Nino mengatakan persiapan yang lebih terfokus dan mendalam ini sulit dilakukan jika murid masih dikelompokkan ke dalam jurusan IPA, IPS, dan Bahasa.

Nino juga menjelaskan, Kurikulum Merdeka memang diterapkan bertahap.  Mulai berlaku tahun ajaran 2022, saat itu sekitar 50% satuan pendidikan menerapkannya. Tahun ajaran 2024 ini, tingkat peningkatan Kurikulum Merdeka sudah mencapai 90-95% untuk SD, SMP dan SMA/SMK. hkm

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *