Selangkah Lagi, Sosok Disabilitas Fatia Azzahra Raih Impian Jadi Polwan
LOLOS SELEKSI BINTARA POLRI: Nur Fatia Azzahra, calon siswa bintara Polri Polda Kepulauan Babel, penyandang disabilitas yang lolos di gelombang II tahun 2024. (foto: Istimewa)
SURABAYA – BQ | Impian Nur Fatia Azzahra, sosok penyandang disabilitas, untuk menjadi Polwan segera terwujud. Perempuan asal Pemali, Kabupaten Bangka, itu lulus dalam sidang akhir penerimaan Polri gelombang II tahun anggaran 2024. Fatia, panggilannya, mendaftarkan diri menjadi anggota Polri Polda Bangka Belitung.
Alumnus Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini mencuri perhatian publik saat pendaftaran Bintara Polri beberapa bulan lalu. Fatia bercerita bahwa ia mendapat informasi pendaftaran melalui media sosial Polri.
“Saya dapat informasi rekrutmen Bintara Polri dari Instagram. Saya tertarik ikut seleksi. Apalagi ada jalur disabilitas,” cerita putri pasangan Budiyanto dan Rosida ini.
Lulus Cumlaude IPK 3,56
Fatia sangat yakin bisa mengikuti berbagai tahapan seleksi. Apalagi, ia memiliki prestasi membanggakan selama menempuh pendidikan di universitasnya.
“Alhamdulillah, prestasi saya sebagai lulusan terbaik dengan IPK cumlaude 3,56 pada jurusan Psikologi di UII Yogyakarta. Saat ini, saya juga sedang menunggu hasil pengumuman seleksi penerimaan S2 di UGM,” tuturnya.
Setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi, ia dinyatakan lulus dalam sidang akhir penerimaan Polri gelombang II tahun anggaran 2024 pada Jumat (5/7/24) lalu.
“Perasaan bercampur aduk. Antara gembira, haru, dan bangga karena berhasil melewati tahap-tahap seleksi,” ujarnya dikutip dari laman resmi Humas Polri, Senin (15/7/2024).
Kendati masih harus melewati tahapan pendidikan, Fatia sangat bersyukur. Mengingat, perjuangan dirinya selama mengikuti tahapan seleksi akhirnya terbayar lunas. Apalagi, ia dapat membuktikan bahwa keterbatasan fisik seseorang tidak menjadi penghalang untuk mengapai cita-cita.

Siapkan Diri Ikut Pendidikan
“Sekarang ini sedang menyiapkan diri jelang keberangkatan pendidikan. Mulai kesiapan fisik, mental, maupun lainnya. Karena tantangan-tantangan baru akan dihadapi selama pendidikan,” ceritanya.
Ia juga menceritakan perjuangannya mencapai kelulusan menjadi anggota Polri. Ada berbagai tantangan yang tidak dialami oleh orang lain. Justru, meski sebagai seorang penyandang disabilitas ia harus membuktikan bahwa semua orang mampu dan layak mendapatkan kesempatan yang sama.
Ditambahkan Fatia, dukungan dari orang-orang terdekat sangat membantu dirinya dalam mewujudkan perjalanan perjuangan menjadi bagian dari Kepolisian.
“Meski banyak rintangan, saya tidak pernah menyerah dan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Dukungan ini sangat berarti sehingga membuat saya merasa tidak sendirian dan semakin memotivasi diri untuk terus maju.,”kata Fatia.
“Setiap langkah yang diambil selalu disertai dengan semangat dan keyakinan bahwa Saya mampu mengubah tantangan menjadi peluang,”sambungnya.
Berterima Kasih ke Polri
Lebih lanjut, Fatia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Polri yang telah memberikan ruang bagi kaum disabilitas untuk seleksi khusus dan berkontribusi dalam berbagai bidang.
Ia berharap perjuangan dirinya mengikuti pendidikan Polri dapat memberikan suntikan motivasi bagi para penyandang disabilitas.
“Saya ingin melihat lebih banyak disabilitas yang sukses. Selalu percaya pada diri sendiri, keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya, buktikan bahwa disabilitas juga bisa berprestasi,” ujarnya. hkm

