Adik-Adik! Kenalin Algoritma Nih… Bapak-Bapak! Ayo Bikin Algoritma yang Saleh

 Adik-Adik! Kenalin Algoritma Nih… Bapak-Bapak! Ayo Bikin Algoritma yang Saleh

Ilustrasi algoritma (naveglo)

SURABAYA – BQ | “Buatlah algoritma kalimat deskriptif langkah-langkah mencapai cita-cita​?” Demikian sebuah pertanyaan di Brainly. Jawaban tercerdas pun muncul di platform berbagi ilmu secara daring tersebut:

● belajar dengan giat dan tekun,

● rajin berlatih,

● bersabar dalam usaha yang dilakukan,

● tekad kuat tidak mudah putus asa,

● disiplin dalam membagi waktu.

Jawaban tersebut memang bagus. Sangat mewakili pikiran banyak orang. Mungkin lebih sempurna kalau ditambah satu poin: berdoa.

Memang dibutuhkan kerja keras, keuletan, kesabaran, serta disipilin waktu untuk menggapai cita-cita. Jangan lupa berdoa. Dan, tindakan-tindakan itu perlu dibiasakan agar menjadi ‘algoritma’. Menjadi kebiasaan. Yang hasilnya bisa dipetik di kemudian hari, insha Allah tercapainya cita-cita.

Ya, kita akan membahas algoritma di sini. Algoritma dalam kehidupan kita. Dengan analogi yang pas, Rahman Mangussara, founder  Center for Financial and Digital Literacy (CFDL), menyebut algoritama adalah mantra.

Algoritma membaca pikiran kita, melalui kebiasaan-kebiasaan digital kita. Kita dituntun oleh sesuatu untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu. Sesuatu itulah algoritma.

Dalam konteks bisnis dan keuangan, bidangnya CFDL, tindakan seseorang membeli sesuatu bisa jadi merupakan pengaruh influencer. Sang influencer melalui media sosial menggiring dan mengarahkan pikiran-pikiran kita untuk berbuat sesuai targetnya dan produsen yang membayarnya. Yaitu membeli produk mereka.

Dikutip dari Digital Marketing Institue, algoritma adalah seperangkat aturan matematika yang menentukan bagaimana sekelompok data berperilaku. Di media sosial, algoritma membantu dalam menentukan peringkat hasil pencarian dan iklan.

Data April 2023, diiperkirakan 60 persen populasi dunia menggunakan media sosial, dengan 150 juta pengguna. Inilah sebabnya mengapa algoritma sangat penting dalam menentukan validitas dan penempatan akun dan konten media sosial.

Bikin Algoritma yang Saleh

Algoritma juga menentukan konten-konten yang kita terima di akun media sosial kita. Seorang ibu kaget ketika membuka gadget-nya. Karena tiba-tiba muncul gambar-gambar tidak senonoh.

Usut punya usut, telepon genggamnya baru saja dipakai anak lelakinya, seorang remaja. Karena handphone si remaja itu lagi direparasi. Si anak menancapkan sim card-nya ke gadget sang ibu.

Ya. Kita tidak akan mendapatkan konten digital yang tidak sesuai dengan kebiasaan kita. Di gadget sang ibu tadi muncul konten begitu karena anak remajanya mengaksesnya. Walaupun si anak tadi hanya sekali-dua kali mengakses konten semacam itu. Google berikutnya akan mengiriminya konten-konten senada. Karena ada biangnya: algoritma.

Hati-hati bapak-bapak yang punya algoritma ‘tidak senonoh’ di dunia digital. Jangan sembarangan menaruh gadget. Handphone yang tanpa sandi, bisa dipakai anak atau istri, bisa ketahuan tuh kelakuan, hehe…

Nah, daripada main petak umpet demi urusan-urusan negatif, apa tidak lebih baik membangun algoritma yang saleh?  Di mana pun berada, apalagi dalam lingkup keluarga. Jika kita saleh, sesuai hukum algoritma, insha allah akan mendapatkan kabar-kabar baik.

Imam Ibnu Katsir dalam karya tafsirnya mendefenisikan orang saleh sebagai orang yang baik amal lahir dan amal batinnya. Sedangkan Imam Khazin dalam tafsirnya mengatakan, “as-shālihīn” adalah kata jamak “shālih,” yaitu orang yang sama baiknya, baik lahir maupun batinnya.

Dimensi amal saleh ada empat, mengutip Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Pertama, niat ikhlas sebagai ibadah untuk meraih ridha Allah Swt. Kedua, kaifiyah atau tata caranya harus sesuai dengan syariat atau dalam bahasa modern ‘profesionalisme’. Ketiga, mendatangkan manfaat dan rahmat bagi sekelilingnya. Terakhir, bersifat islah atau solutif.

Batin bersih, akan tercermin dalam tindakan bersih. Kesalehan akan membentuk algoritma dalam diri. Terealisasi dalam tindakan yang saleh juga. Termasuk dalam bermedia sosial.

Ilustrasi Muhammad bin Musa Al Khawarizmi dan isi kitab Al Gebra (Al Jabar). (foto: thatsmath.com)

Algoritma Karya Ilmuwan Muslim

Bicara algoritma, tak lengkap rasanya bagi umat muslim, tanpa mengenal siapa penemunya. Karena sang penemu adalah ilmuwan muslim. Ketika platform Facebook mengalami booming dan banyak orang memuji penemunya, Mark Zuckerberg, sang CEO Facebook itu malah berkomentar begini:

“Saya heran ada orang-orang yang terlalu mengidolakan saya. Padahal saya sangat mengidolakan ilmuwan muslim Al-Khawarizmi. Karena tanpa Algoritma dan Aljabar, maka jangan pernah bermimpi ada Facebook, Whats App, BBM, Line, games, bahkan komputer.” Komenter Zuckerberg itu belakangan berseliweran di jagat media sosial.

Ya. Penemu algoritma adalah matematikawan muslim Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi. Hidup pada 780-850 Masehi. Istilah algoritma bahkan adalah pengabadian namanya atas ilmunya itu.

Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi kemudian disebut Al-Khawarizmi saja, sesuai kota kelahirannya, di wilayah yang kini dikenal Uzbekistan. Al-Khawarizmi bekerja di Bayt al-Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad, ibu kota Iraq. Negara yang dulu bernama Persia.

Bayt al-Hikmah ketika itu menjadi pusat pembelajaran dan penelitian pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Saat itu, Al-Khawarizmi menulis “Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala”. Buku yang merangkum perhitungan pelengkapan dan penyeimbangan yang menjadi dasar ilmu aljabar. Memperkenalkan metode sistematis untuk memecahkan persamaan linier dan kuadrat.

Buku itu diterjemahkan ke bahasa Latin pada abad ke-12. Judulnya dalam bahasa Latin: Liber algebreæ et almucabola. Orang Eropa mengambil istilah Al-Gebra dari judul di versi Latin buku ini. Di Arab dikenal Al-Jabar.

Selain itu, Al-Khawarizmi juga menulis “Al-Jam’ wat-Tafriq bi-Hisab al-Hind”, buku rangkuman untuk kalkulasi dengan melengkapkan dan menyeimbangkan. Ia memperkenalkan penggunaan angka Hindu, 1 hingga 9 serta 0. Juga membahas konsep algoritma, yang berdampak signifikan dalam ilmu matematika, khususnya perkembangan teknologi modern seperti komputer.

Di Eropa, karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Namanya berubah ditulis Algorithmi, Algorismi, dan Alchawarizmi. Berikutnya, literatur Barat mengenal Al-Khawarizmi sebagai Algorizm, yang kemudian menjadi algoritma.

Tangkapan layar bagian terdepan aplikasi Brainly versi Android,, Brainly bisa membantu kamu dalam mengerjakan PR tersulit sekalipun.(foto: hibrid.co).

Brainly, Penting tapi Lucu Juga

Sebelum mengakhiri tulisan ini, omong-omong… jangan-jangan… ada yang penasaran tentang Brainly yang jadi pembuka tulisan ini.  Diulas sedikit ya… Brainly adalah platfom tempat berbagi ilmu ratusan juta siswa dan pakar edukasi. Belajar bersama untuk menyelesaikan soal-soal yang paling rumit sekalipun.

Brainly dibuat oleh Lukasz Haluch, Michal Borkowski dan Tomasz Kraus pada tahun 2009 di Krakow, Polandia. Dalam versi bahasa Polandia bernama Zadane.pl.  Karena melihat adanya kemauan siswa dalam membantu sesama dalam menyelesaikan pekerjaan rumah mereka, Brainly bertujuan membuat kegiatan tersebut dapat dilakukan secara daring.

Platform ini cukup eksis di Indonesia. Menurut Brainly, pada 2015 di Indonesia ada 1,4 juta pengguna. Di dunia ada 100 juta. Brainly dapat digunakan di Android, iOS, dan peramban web. Menyediakan tiga tingkat pendidikan, yaitu SD, SMP dan SMA. Juga terdapat 25 kategori mata pelajaran.

Semua pengguna (user) bebas bertanya dan menjawab. Apa pun bisa ditanyakan user dan dijawab user yang lain. Karena itulah, tak heran sering muncul konten-konten yang keluar dari topik.

Dan, bukan netizen Indonesia kalau tidak tanya yang aneh-aneh di platform ini. Berikut ini contoh pertanyaan ‘nyeleneh’. “Negara Asean yang keteknya paling Utara adalah negara dan yang paling timur adalah?”. Dilihat penulis di Brainly, pertanyaan ‘nggak karuan’ itu diajukan user sririswanti74.

Muncul jawaban tercerdas yang disampaikan user alyamaulida20. Jawaban tercerdas diberi simbol gambar mahkota di Brainly. Dan jawaban tercerdas itu adalah:

“Kacau nih pertanyaan nyaa. Jawabannya ketek Lu yang paling bau. Ngapain nanyain pertanyaan yang nggak jelas.”  Hehe…. ada-ada saja. hkm

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *