Bukan Batal Dipecat, Prof BUS Diangkat Kembali! Ternyata Ini Kesalahannya

 Bukan Batal Dipecat, Prof BUS Diangkat Kembali! Ternyata Ini Kesalahannya

Prof BUS dan Prof Nasih berpelukan saat jumpa pers di depan Masjid Ulul Azmi Kampuc C Unair Surabaya, Selasa (9/7/2024) kemarin. (foto: cnnindonesia)

SURABAYA – BQ | Rabu (10/7/2024) pagi ini menjadi hari yang indah bagi Prof Budi Santoso. Kursinya yang hilang telah kembali. Praktis seminggu Prof BUS merana karena kehilangan posisi sebagai Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unair.

(Versi Prof BUS) Dipecat mendadak oleh Rektor Unair Prof M Nasih pada Rabu (3/7/2024). Selama seminggu itu pula, kasus ini menjadi sorotan. Karena kurang eloknya.

“Besok pagi (pagi ini, red) beliau sudah ngantor kembali,” ujar Prof Nasih dalam jumpa pers penuh drama di depan Masjid Ulul Azmi Kampus C Unair Jalan Mulyorejo, Surabaya, kemarin. Prof BUS yang ada di sebelah Prof Nasih pun semringah.

Ya. Memang penuh drama jumpa pers itu. Diawali para pimpinan rektorat, Wali Amanat, dan pimpinan serta jajaran dosen dan tenaga pendidik FK Unair berkumpul. Mereka lalu salat Ashar berjamaah di masjid.

Setelah kepala dan batin dingin seusai menghadap Ilahi, jumpa pers digelar. Prof Nasih bersama Prof Nasih dengan didampingi seluruh jajaran memberikan keterangan kepada awak media.

Suasana full kehangatan. Wajah-wajah berseri-seri. Menyungging senyum. Saling berangkulan. Berpelukan. Tanda berakhirnya perseteruan Prof BUS dengan pimpinan Unair. Happy ending!

Terlihat dr Ario Jatmiko yang menjadi garda terdepan dalam memediasi masalah ini juga memeluk Prof Nasih.

“Serial telah berakhir,” ujar Prof Nasih yang sejak kemarin-kemarin menyebut persoalan di kampusnya itu sebagai serial. Serial itu semacam drama bersambung.

“Ini kan biasa saja. Jadi sampean ketemu, pacaran, terus ada masalah apa tiba-tiba putus. Kan biasa kan. Jadi tidak usah baperan,” ujar Prof Nasih.

“Tapi Insya Allah semua sudah oke. Kami sudah baca surat Prof BUS. Ditulis tangan, agak sulit bacanya. Tapi kami bisa paham apa yang disampaikan Prof BUS. Karena itu, ada alasan bagi kami untuk mengangkat kembali beliau sebagai Dekan Fakultas Kedokteran,” lanjut Guru Besar Ekonomi Unair tersebut.

Catat poinnya. “Kami angkat kembali!” Bukan “Kami cabut atau batalkan pemberhentian”. Karena media hari ini banyak yang kurang tepat memilih diksi. Misalnya “Prof BUS batal dipecat”, “Prof Nasih batal pecat Prof BUS”, dan sejenisnya.

(Sudahlah… Itu memang masalah di kalangan awak jurnalistik. Kadang-kadang mereka sebenarnya sudah paham maksudnya. Tapi sengaja ditulis begitu biar dramatik dan menggelitik dibacanya.)

Lagi pula sebelumnya, Prof BUS sudah menerima SK Pemecatan yang diteken Prof Nasih. Dan, siang kemarin, SK pengangkatan kembali Prof BUS sebagai Dekan FK Unair juga sudah turun. Jadi tidak ada pembatalan pemecatan. Yang ada, sudah dipecat lalu diangkat kembali.

“(SK pengangkatan kembali Prof BUS) Sudah turun. Siang tadi (kemarin, red), diantar langsung oleh Ketua Majelis Wali Amanat Prof Sunarto,” ujar Satria Unggul Wicaksana, koordinator Kaukus Indonesia Kebebasan Akademik (KIKA), salah satu dari deretan Tim Advokasi Prof BUS kepada wartawan, kemarin.

TETAP MENGAJAR: Prof Budi Santoso (BUS), Senin (8/7/2024), mengaku tetap mengajar setelah diberhentikan dari Dekan FK Unair. (Foto: JPNN.com)

Inilah Kesalahan Prof BUS

Meski demikian, Prof Nasih membantah alasan pemberhentian Prof BUS dari Dekan FK Unair karena menolak kedatangan dokter asing di Indonesia. Yang versi Prof BUS, suara yang disampaikan dalam grup WhatsApp dosen Unair yang beranggotakan 300 orang itu, sebagai pendapat pribadi.  

Merespons hal itu, Prof Nasih dalam jumpa pers kemarin minta agar pendapat mengenai hal itu disuarakan dalam mimbar akademik. Mungkin maksudnya, kurang elok jika jadi ‘gunjingan’ di grup WA. Apalagi menurut Prof Nasih, di Unair ada ribuan tenaga asli asing, yang bersama-sama mengawal kampus.

Simak kalimat Prof Nasih soal itu: “Saya tidak berpendapat soal itu (penolakan Prof BUS terhadap masuknya dokter asing ke Indonesia, red). Kita bicara soal dekan bagian dari Universitas Airlangga. Soal ahli di Unair ada ratusan. Ada ratusan bahkan ribuan tenaga ahli asing bersama kita. Kami tidak mengusik beliau (BUS, red) sebagai profesor, dokter. Saya hanya berurusan beliau sebagai dekan yang rektornya (adalah) saya.”

Prof Nasih lalu melanjutkan, dia  mempersilakan para akademisi juga dekan mengkritik siapa pun, termasuk pemerintah. Tetapi, yang harus digarisbawahi “melalui mimbar akademik”.

 “Ada yang namanya mimbar akademik. Silakan saja, di mana posisinya. Jangan lupa ya, Unair setahun punya 3.500 publikasi kebebasan akademisi. Mungkin banyak isinya. Tidak masalah. Tidak ada yang bredel, asal sifatnya akademik,” ungkap Prof Nasih.

Tidak berhenti di situ, Prof Nasih juga masih menandaskan tentang etika berpendapat Aparatur Sipil Negara (ASN) di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Pernyataan itu menjawab soal sikap dekan atau semua pejabat Unair agar tidak mengalami nasib seperti Dekan FK, meski ujungnya dikembalikan.

Bukan Pencopotan Mendadak

Prof Nasih berdalih bahwa pemberhentian Prof BUS bukanlah proses yang mendadak. “Tidak mendadak, semua melalui proses. Hanya karena tahunya saja kelihatan mendadak,” ujarnya beralasan.

(Prof BUS dan banyak pihak, termasuk kalangan media, yang marah atas hal itu menilai prosesnya memang sangat cepat dan mendadak).

Prof Nasih pun mengingatkan, setiap akademisi apalagi pejabat Unair, harus memposisikan dirinya tergantung keadaan.

“Gini, kami kan punya banyak peran fungsi. Menurut saya harus benar-benar berkomitmen. Apalagi pejabat ASN di PTN seperti Unair, harus mematuhi aturan kepegawaian yang ada. Kapan sebagai bapak, suami, istri, pejabat, yang kebetulan juga ASN. Pada PTN yang harus dipahami kapan sebagai profesor, dokter, sehingga tolong, kami tidak membatasi apa pun sebagai profesinya, tapi ada koridor,” ujarnya panjang lebar.

Prof Nasih juga menandaskan, pihaknya menjamin tidak akan mengganggu kebebasan akademik. Namun, sebagai ASN di PTN, akan berbahaya jika sembarang berbicara. (Termasuk ‘bergunjing’ di grup WA dosen kampus, red).

“Saya tidak berbicara (kebebasan berpendapat di lingkungan) akademik. Saya tidak nyentil akademik. Saya hanya bicara beliau sebagai dekan di FK di PTN dan beliau ASN. Itu aja yang kami selamatkan. Kalau tidak, bahaya,” ujarnya.

UNJUK RASA: Ratusan mahasiswa, dokter hingga tenaga kesehatan menggelar aksi bela Prof Dr Budi Santoso dr SpOG (K) yang diberhentikan sebagai dekan FK Unair di depan halaman Kampus A, Unair Surabaya, Kamis (4/7/2024).

Prof BUS: Semua Salah Saya

Prof BUS sendiri menyatakan bersyukur karena semua dinamika yang terjadi sudah berakhir. Dia pribadi meminta maaf kepada Rektor Unair Prof Nasih atas kegaduhan yang terjadi.

“Alhamdulillah semuanya sudah berakhir. Saya secara pribadi mengaturkan permohonan maaf kepada bapak rektor. Mungkin saya bermaksud untuk mewakili diri pribadi (bersuara soal penolakan dokter asing ke Indonesia di grup WA dosen Unair, red). Tapi mungkin terlalu kelewatan. Sehingga saya menggunakan institusi. Ini yang mungkin salah saya,” ujarnya.

Dia juga bersyukur Rektor Unair telah memaafkan dan memberinya kesempatan kembali sebagai Dekan Fakultas Kedokteran.  “Alhamdulillah bapak rektor sudah memaafkan dan semuanya saya serahkan kembali ke bapak rektor,” ujarnya.

Tapi, kalau bukan karena ‘surat cinta’ tulisan tangan dari Prof BUS yang minta penjelasan mengapa dirinya “diputus begitu cepat”, mungkin saja serial ini belum berakhir. Namun alhamdulillah kini drama happy ending. Semoga selanjutnya kampus tercinta kita, Unair, baik-baik saja dan kian moncer. hkm

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *