Biaya Visa Pelajar Melejit, Guru Besar IPB: Lonceng Kematian Kejayaan Pendidikan Australia  

 Biaya Visa Pelajar Melejit, Guru Besar IPB: Lonceng Kematian Kejayaan Pendidikan Australia  

SURABAYA-BQ | Kejayaan pendidikan Australia kian memudar. Setidaknya itulah prediksi Guru Besar IPB  University Prof Ronny Rachman Noor. Pasalnya, pemerintah Negeri Kanguru menerapkan kebijakan pembatasan mahasiswa internasional. Langkah pertamanya, menaikkan biaya visa pelajar dua kali lipat lebih per 1 Juli 2024.

Sebelumnya biaya visa pelajar di Australia adalah 710 Dollar AS (setara 8,567,570 dengan kurs Rp12.067 saat ini). Menjadi 1.600 Dollar AS (setara Rp17,529,600).

Padahal, selama ini Australia merupakan negara yang paling banyak dipilih oleh mahasiswa Indonesia sebagai destinasi study abroad mereka.

Menurut data dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tahun 2021, jumlah warga negara Indonesia yang berkuliah di luar negeri 53.604 orang. Australia menjadi pilihan pertama dengan total 13.880 orang, disusul Malaysia 8.440 orang, dan Amerika Serikat 7.984 orang.

Namun berdasarkan data terbaru, Australia harus siap-siap disalip Mesir sebagai negara menjadi tujuan studi mahasiswa Indonesia. Apalagi setelah Negeri Kanguru meroketkan biaya visa pelajar bagi warga asing.

Jumlah mahasiswa Indonesia di Al-Azhar Mesir merupakan yang terbanyak dari negara asing lainnya. Yaitu 12 ribu mahasiswa dari total 40 ribu mahasiswa asing dari 120 negara. Dikutip Binaqolam dari situs resmi MPR RI, Senin (8/7/2024), data tersebut disinggung ketika Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid berdialog dengan pimpinan Senat Mesir dan Rektor Al-Azhar Kairo ketika berkunjung ke Mesir, 2 Mei 2023 lalu.

Kembali ke pernyataan Prof Ronny Rahman, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Indonesia di Australia periode 2012-2016 itu mengatakan, kebijakan baru Australia itu juga merupakan lonceng kematian era kejayaan pendidikannya. Selama ini, Australia mengandalkan mahasiswa Internasional sebagai bagian dari pendidikannya.

“Diprediksi, kondisi ini akan berdampak besar pada perekonomian Australia karena jumlah mahasiswa asing diprediksi akan menurun tajam,” kata Prof Ronny melalui siaran pers, dikutip Sindonews.com, Minggu (7/7/2024).

Sebagai gambaran, dalam kurun waktu Juli 2023-Mei 2024, jumlah visa calon mahasiswa internasional yang dikeluarkan mencapai 440.000.

“Tidak dapat dimungkiri, keberadaan mahasiswa Internasional di Australia berdampak besar bagi sektor ekonomi riil Australia. Dengan biaya visa sebesar ini, pembuatan visa menjadi lebih mahal jika dibandingkan dengan negara pesaing lainnya,” terang Prof Ronny.

Mahasiswa internasional di Australia, ujar dia, menjadi tulang punggung pendapatan negara yang nilainya mencapai 40-50 miliar Dollar AS per tahun. Jumlah mahasiswa asing di Australia sampai bulan Februari 2024 saja mencapai 713.144 orang. Dengan angka sebesar ini, mahasiswa asing menyumbang devisa yang sangat besar bagi pemerintah Australia.

Lantas, kebijakan kenaikan biaya visa ini mendapat resistensi dari Asosiasi Pendidikan Internasional Australia. Mereka menyatakan bahwa kebijakan pemerintah Australia yang mengejutkan ini merupakan pukulan telak bagi sektor pendidikan internasional di Australia.

Biaya Deposit Sangat Tinggi

Kebijakan ini pun memicu keresahan dan kemarahan di kalangan mahasiswa internasional yang sedang menempuh pendidikan di Australia. Apalagi, peningkatan biaya visa ini bukan satu-satunya beban yang dirasakan oleh mahasiswa internasional. Mereka pun diwajibkan untuk menyediakan biaya deposit yang juga sangat tinggi.

Dikutip Binaqolam dari situs resmi Universitas Melbourne, Senin (8/7/204), calon mahasiswa asing harus membayar deposit minimum sebesar 17.000 Dollar Australia ($AUD) atau setara Rp186.660.000 (dengan kurs saat ini Rp10.980). Pembayaran akan dikreditkan ke biaya kuliah sebagai cicilan pertama.

Belum lagi, dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, biaya akomodasi, biaya pendidikan, biaya hidup dan asuransi pendidikan di Australia melonjak sangat tajam. Menurut Prof Ronny, hal itu selaras dengan semakin melemahnya perekonomian Australia.

“Dengan semakin memburuknya perekonomian Australia, jumlah beasiswa dan dana pendidikan yang dialokasikan ke universitas semakin menurun,” jelasnya.

Ekonomi Memburuk,  Cari Tambahan Dana Pendidikan

“Jika dianalisis lebih dalam lagi, tampaknya kenaikan biaya visa ini memang ditujukan untuk memperoleh dana tambahan untuk mendanai pendidikan, termasuk pemotongan utang lulusan, sukunan pendanaan peserta magang dan penerapan strategi imigrasi,” ujar Prof Ronny.

Berdasarkan analisisnya, pemerintah Australia tampaknya ingin merampingkan jumlah mahasiswa internasional untuk meningkatkan kualitasnya. Salah satunya untuk mengontrol jumlah imigran yang melonjak tajam pasca pandemi COVID-19, mencapai 528 ribu orang di tahun 2022-2023.

Sebelum ketegangan politik antara China dan Australia, mahasiswa internasional dari China angkanya mencapai lebih dari 150 ribu orang. Menjadikannya salah satu negara dengan mahasiswa terbanyak yang berkuliah di Australia. Adapun Indonesia, jumlah rata-ratanya sekitar 11.000 orang setiap tahunnya.

“Jika dianalisis lebih dalam lagi, faktor kedekatan jarak dan mutu pendidikan merupakan dua faktor utama yang menyebabkan Australia menjadi salah satu tujuan pendidikan favorit,” kata Prof Ronny.

Pemberi Beasiswa Memilih selain Australia

“Namun, selama kurun waktu 20 tahun terakhir, biaya pendidikan di Australia meroket yang menyebabkan pemberi beasiswa pendidikan memilih negara lain untuk mengirimkan mahasiswanya karena jelas lebih murah,” tambahnya.

Sebagai ilustrasi, mengirimkan seorang mahasiswa untuk studi ke Australia untuk jenjang master dan doktor akan setara dengan 4-5 mahasiswa jika menyelesaikan pendidikan di Indonesia atau beberapa negara lain di kawasan Asia, dengan reputasi akademik yang setara dan biaya pendidikan yang lebih murah. Dia juga memiliki pandangan bahwa kenaikan biaya pendidikan dan visa ini akan memengaruhi hubungan Australia dengan negara-negara tetangga kawasan Indo Pasifik, termasuk Indonesia.

Sebab, mereka akan lebih memilih untuk mengirimkan mahasiswa ke negara lain, termasuk Inggris yang biaya visanya hanya sebesar 900 Dollar AS dengan biaya pendidikan yang setara atau bahkan lebih murah. Demikian juga jika dibandingkan dengan Kanada dan Amerika yang biaya visanya lebih murah. hkm

BinaQolam

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *